Indonesia dan Mongolia Perkuat Kemitraan Strategis di Berbagai Sektor

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:15 WIB
Indonesia dan Mongolia Perkuat Kemitraan Strategis di Berbagai Sektor

Jakarta, Kamis lalu, menjadi saksi sebuah pertemuan penting. Di tengah perayaan 70 tahun hubungan diplomatik, Indonesia dan Mongolia duduk bersama dalam Pertemuan Konsultasi Politik. Agenda utamanya? Membuka babak baru untuk memperkuat kemitraan yang sudah terjalin selama tujuh dekade itu.

Acara yang digelar pada 26 Februari 2026 itu dipimpin langsung oleh dua wakil menteri luar negeri. Dari Indonesia hadir Arrmanatha C. Nasir, sementara Mongolia mengirimkan Amartuvshin Gombosuren. Suasana ruang pertemuan di Jakarta terasa hangat, mencerminkan hubungan bilateral yang memang sedang naik daun.

Dalam diskusi, keduanya sepakat bahwa potensi kerja sama masih sangat terbuka lebar. Mereka membidik sejumlah sektor kunci, mulai dari ekonomi strategis, pertahanan, hingga hal-hal yang lebih teknis seperti pertanian dan pariwisata. Tak ketinggalan, pendidikan dan ilmu pengetahuan juga masuk dalam radar ekspansi hubungan kedua negara.

“Potensi kerja sama Indonesia dan Mongolia masih sangat luas,” ujar Wamenlu Arrmanatha, atau yang akrab disapa Wamenlu Tata.

“Peningkatan engagement pelaku usaha menjadi kunci, antara lain melalui MoU antar-kamar dagang sebagai jembatan memperluas perdagangan, investasi, dan kemitraan bisnis,” tambahnya dalam keterangan resmi, Jumat (27/2).

Di sisi lain, Indonesia juga menawarkan kapasitasnya di bidang pertanian. Negeri ini dipandang mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Mongolia, khususnya melalui program pelatihan untuk pertanian berkelanjutan.

Sementara untuk pendidikan, kerja sama sudah berjalan dan akan makin diperkuat. Beberapa program beasiswa Indonesia seperti TIAS dan BSBI menjadi andalan, ditambah pelatihan bagi diplomat Mongolia serta program Kemitraan Negara Berkembang. Rupanya, hubungan baik ini tidak hanya bicara soal bilateral semata.

Kedua delegasi juga meluangkan waktu membahas dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Mereka berkomitmen untuk meningkatkan kolaborasi di berbagai forum regional dan multilateral. Sebagai langkah nyata, dibahas pula rencana pembentukan Policy Planning Dialogue antar kementerian luar negeri kedua negara. Dialog ini nantinya diharapkan bisa memperdalam koordinasi strategis, terutama menyikapi geliat kawasan Indo-Pasifik dan isu-isu global lainnya.

Pertemuan ini bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Ia merupakan tindak lanjut konkret dari penandatanganan MoU on Political Consultation yang sudah dilakukan para menteri luar negeri di Jakarta pada Mei 2025 silam. Dengan kata lain, pertemuan ini menjadi fondasi untuk membangun arsitektur dialog bilateral yang lebih terstruktur dan yang paling penting berkelanjutan.

Memang, hubungan dagang kedua negara sudah menunjukkan tren yang menggembirakan. Data tahun 2025 mencatat total perdagangan mencapai USD 56 juta. Di angka itu, ekspor Indonesia menyumbang USD 49,5 juta, sementara impor dari Mongolia berada di angka USD 6,5 juta.

Hubungan budaya pun tak kalah erat. Indonesia menjadi tuan rumah bagi satu-satunya Pusat Kebudayaan Mongolia di seluruh Asia Tenggara, yang berlokasi di Tanjung Lesung, Banten. Kehadiran pusat budaya ini jelas memperkaya pertukaran antarmasyarakat.

Menutup pertemuan, Wamenlu Tata menyampaikan harapannya.

“Indonesia bangga menjadi tuan rumah pertemuan strategis ini. Kami berharap kemitraan Indonesia dan Mongolia terus berkembang dalam kerangka kerja sama komprehensif yang lebih erat, responsif terhadap tantangan global, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah konkret yang telah dibahas, kerja sama kedua negara ke depan diprediksi akan makin menguat. Tidak hanya dalam angka perdagangan, tetapi juga dalam bentuk kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar