Anindya Bakrie tak menampik ada tantangan serius di balik kabar gembira tarif nol persen untuk ekspor tekstil ke Amerika. Ketua Umum Kadin Indonesia itu menyoroti persoalan lama: dumping dan maraknya impor ilegal, terutama dari China. Menurutnya, ini sudah level yang mengkhawatirkan. "Impor ilegal China ini benar-benar mesti penanggulangannya khusus. Atau dari negara manapun juga mesti khusus," tegas Anindya, yang akrab disapa Anin, di kediamannya di Jakarta Pusat, Jumat malam lalu.
"Karena ini sudah bukan dumping lagi, dumping ilegal," tambahnya.
Namun begitu, ada satu syarat utama yang bikin persoalan jadi tak sederhana. Pembebasan tarif itu ternyata dikaitkan dengan seberapa banyak Indonesia mengimpor bahan baku seperti kapas dan serat buatan dari AS sendiri. Ini jelas jadi pertimbangan tersendiri bagi pelaku industri di dalam negeri.
Di sisi lain, Anin melihat peluang itu tetap terbuka. "Bahwa kalau kapasnya dari Amerika, dan nanti dieksporkan mereka 0 persen, itu bisa mendapat manfaatnya tentunya pengekspor Indonesia," ujarnya.
Baginya, ketergantungan pada volume impor bahan baku sebenarnya bukan halangan paling besar. Yang justru lebih krusial adalah daya saing produk itu sendiri di pasar internasional. "Intinya, semua itu mesti kompetitif, dan bisa menjawab kebutuhan dan juga demand daripada masyarakat," papar Anin.
"Jadi kalau nanti impor, ekspor, tapi hasilnya enggak kompetitif, ya tak laku juga," sindirnya ringan.
Kekhawatiran serupa sebenarnya sudah mengemuka dari pelaku industri. Redma Gita Wirawasta dari Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) sebelumnya menyebut, memenuhi kuota impor bahan baku dari AS bakal sulit. Penyebabnya? Utilitas pabrik dalam negeri yang rendah akibat membanjirnya produk China ilegal.
"Utamanya karena pengaruh pasar dalam negeri yang dibanjiri impor ilegal dan dumping, jadi produsen menurunkan tingkat utilisasinya," jelas Redma.
Latar belakang dari seluruh pembicaraan ini adalah penandatanganan kerja sama ekonomi baru antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump di Washington, pekan sebelumnya. Kesepakatan yang dijuluki 'agreement toward a new golden age Indo-US alliance' itu membuka akses bebas bea untuk ribuan produk Indonesia.
Tak cuma tekstil, deretan komoditas yang dibebaskan tarifnya mencakup minyak sawit, kopi, kakao, hingga komponen elektronik dan pesawat terbang. Khusus untuk tekstil dan garmen, mekanismenya menggunakan Tariff Rate Quota (TRQ). Artinya, jumlah ekspor yang dapat tarif nol persen akan disesuaikan dengan seberapa banyak kita mengimpor kapas dan serat buatan dari mereka.
Jadi, di atas kertas peluangnya terbuka lebar. Tapi di lapangan, persaingan dengan barang ilegal dan kemampuan industri memenuhi syarat kuota bakal jadi ujian yang nyata.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Hizbullah Diumumkan Trump, Netanyahu Tolak Tarik Pasukan
LRT Jabodebek Desak Pemkot Bekasi Sediakan Angkutan Feeder ke Stasiun
BPJT: Implementasi Sistem Bayar Tol Tanpa Berhenti (MLFF) Masih Butuh Proses Adaptasi
Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun