Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya pendapat yang cukup tegas soal rencana pengenaan bea keluar batu bara. Menurutnya, langkah ini sama sekali tidak akan bikin produk batu bara Indonesia kehilangan daya saing di pasar global. Ya, tetap kompetitif.
Memang, Purbaya mengakui bakal ada penolakan dari para pengusaha tambang. Bayangkan saja, di tengah harga komoditas yang lagi melemah, tiba-tiba dapat tambahan beban. Tapi, dia memastikan bea keluar ini bakal diterapkan tahun depan, tidak bisa ditawar lagi.
"Enggak (batu bara Indonesia tidak kompetitif). Tapi untung mereka (pengusaha) turun sedikit,"
tegasnya kepada awak media di kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (26/11).
Di sisi lain, Purbaya mencoba membandingkan kontribusi yang selama ini diberikan. Menurut pandangannya, kontribusi pengusaha batu bara ke kas negara masih kalah jauh dibanding komoditas lain, ambil contoh migas. Rezim bagi hasil atau PSC untuk migas di masa lalu jelas lebih menguntungkan negara.
"Semua perusahaan batu bara pasti menolak, orang dikasih tarif. Sebenarnya begini, sebagian dari kita melihat dibanding barang tambang yang lain, misalnya minyak, batu bara lebih sedikit yang dibayar pemerintah,"
jelasnya, mencoba memberi konteks.
"Kalau kita lihat PSC zaman dulu, kontrak sharing itu kan 85-15, 85 kan pemerintah, 15 untuk (perusahaan) minyak. Batu bara kan jauh lebih kecil dari itu. Ini masih bisa ditingkatkan lagi tanpa mengganggu industrinya sendiri,"
Artikel Terkait
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina
Waspada! Link Pendaftaran BSU 2026 Ternyata Hoaks, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan
Jerman Perketat Hukum untuk Hadang Gelombang Deepfake dan Pelecehan Digital