Sutoyo Abadi: Indonesia Terancam Jadi Kacung Asing di Balik Inisiatif Perdamaian Gaza

- Selasa, 27 Januari 2026 | 07:25 WIB
Sutoyo Abadi: Indonesia Terancam Jadi Kacung Asing di Balik Inisiatif Perdamaian Gaza

Sutoyo Abadi: Indonesia Bisa Terperangkap Sebagai Antek, Boneka Dan Kacung Asing

Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, melontarkan kritik pedas. Dalam sebuah artikelnya, ia memperingatkan bahwa negara ini berisiko besar menjadi sekadar alat antek, boneka, bahkan kacung kepada kekuatan asing.

Ia memulai dengan mendefinisikan istilah-istilah itu. "Antek" itu orang atau negara yang diperalat. Lalu "boneka", ya, maknanya kiasan tapi jelas: dimanipulasi seperti wayang oleh dalangnya. Sedangkan "kacung" lebih kasar lagi, merujuk pada pesuruh atau jongos.

Kritik ini muncul menyusul langkah Presiden Prabowo Subianto yang menandatangani Piagam Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump di Davos, Swiss, akhir Januari lalu. Tindakan itu disebut sebagai komitmen Indonesia untuk perdamaian di Gaza. Tapi bagi Sutoyo, ceritanya tidak sesederhana itu.

Ia mengutip pendapat Sean Lee, asisten profesor ilmu politik di Universitas Amerika di Kairo.

"Pemerintahan kolonial Gaza yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair adalah sejarah sebagai lelucon,"

kata Lee.

Menurut Sutoyo, BoP sama sekali tidak akan menghukum Israel atas genosida. Malah, rencananya justru memberi Israel wilayah lebih luas lewat "zona penyangga" yang mengurung Gaza. "Board of Peace itu justru akan melegitimasi dan mensubkontrakkan pendudukan brutal Israel," imbuhnya, Selasa (27/1/2026).

Parahnya lagi, lanjutnya, inisiatif ini tidak akan melucuti senjata pelaku genosida. Justru korbannya rakyat Gaza yang akan dideradikalisasi dan dilucuti haknya.

"Keputusan tergesa-gesa ini berisiko melemahkan mandat KAA, GNB, OKI, dan Liga Arab," tegas Sutoyo.

Ia juga menilai langkah itu bertentangan dengan UUD 1945 yang mendukung hak menentukan nasib sendiri bagi Palestina. Bisa ditebak, ini berpotensi memicu gelombang protes dari kelompok pro-Palestina dan aktivis HAM di dalam negeri yang menilai Indonesia kehilangan kredibilitas politik Bebas Aktifnya.

Di sisi lain, Sutoyo melihat pola pikir pemerintah saat ini sudah terjebak dalam apa yang ia sebut "penjajahan pemikiran". Fokus pada jaminan keamanan Israel di tengah genosida yang masih berlangsung, bagi dia, adalah buktinya.

"Berkali-kali saya mendengar Presiden Prabowo mengatakan kita harus menjamin keamanan Israel, sementara kekejaman di Palestina terus terjadi. Ini menjijikkan. Tidak masuk akal," ujarnya dengan nada keras.

"Ini bukan cuma tidak normal. Ini cara berpikir yang sesat."

Kekhawatiran lain yang ia angkat adalah soal dana. Beberapa pakar, kata Sutoyo, risau Indonesia akan jadi "antek, boneka, atau kacung asing" tanpa agenda jelas. Apalagi ada iuran anggota fantastis, mencapai US$1 miliar, untuk status permanen di BoP. Dari mana sumbernya di APBN 2026? Itu masih gelap.

"Kalau uang APBN ternyata dipakai untuk membantu Zionis Israel melakukan genosida di Gaza, itu sangat mengerikan,"

tandasnya.

Ini jelas-jelas sesat pikir. Bagaimana mungkin Board of Peace menyediakan solusi, sementara anggotanya adalah orang-orang yang selama ini memberi legitimasi pada pembunuhan massal di Gaza? Mereka lah yang membuat PBB lumpuh.

Pada akhirnya, Sutoyo berkesimpulan pilu. Indonesia, menurutnya, sedang mengalami "penjajahan pemikiran". Pemerintah dipaksa tidak bisa berpikir jernih dan akhirnya terperangkap dalam peran yang memalukan: antek, boneka, dan kacung asing.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler