Suara klakson panjang memecah kesunyian di Kecamatan Caruban, Kabupaten Madiun, akhir Januari lalu. Sebuah bus dengan gambar lumba-lumba dari Yogyakarta melaju kencang ke arah Surabaya. Pengemudinya nekat mengambil jalur berlawanan arah atau yang biasa disebut 'ngeblong' untuk mendahului kendaraan di depannya. Asap hitam pekat dari knalpotnya mengepul, meninggalkan jejak bagi pengendara di belakang.
Itu hanyalah secuil kenangan. Sebuah pengingat samar tentang masa kejayaan jalan raya Solo-Surabaya yang kini sudah jauh berkurang kemacetannya. Sebagian besar mobil, bus, dan truk kini memilih jalur yang lebih cepat: jalan tol Trans-Jawa.
Kehadiran tol itu mutlak. Diresmikan pada 20 Desember 2018, empat ruasnya di Jawa Timur Ngawi-Kertosono, Jombang-Mojokerto, Gempol-Pasuruan, dan relokasi Gempol-Porong secara perlahan tapi pasti mengubah peta perjalanan jarak jauh. Efisiensi waktu jadi taruhannya.
Dampaknya jelas terlihat. Jalan raya antarprovinsi yang dulu ramai itu kini terasa lengang. Memudar, tapi belum mati sama sekali. Yang paling terpukul adalah ekonomi di sepanjang jalur lama, terutama warung-warung makan besar yang dulu jadi persinggahan wajib bus dan travel.
Ambil contoh Warung Makan Utama di Kabupaten Madiun. Tempat yang buka 24 jam ini pernah menjadi sumber cahaya di malam hari bagi kawasan yang minim penerangan. Kehadiran bus-bus yang berhenti menciptakan kemeriahan tersendiri. Dengan tempat parkir luas dan kenyamanan yang ditawarkan, lokasi ini jadi pilihan ideal untuk melepas lelah sejenak, baik bagi penumpang yang ingin makan maupun sopir yang butuh meregangkan badan.
Namun, setelah tiga dekade mengabdi, pada Desember 2023, keramaian itu punah. Warung Makan Utama akhirnya menutup pintunya. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan mangkrak. Halamannya ditumbuhi ilalang, dinding-dindingnya rusak dan dipenuhi coretan vandalisme. Sunyi.
Nasib serupa menimpa Rumah Makan Pagi-Sore yang bergaya Minang di Kecamatan Saradan. Letaknya tak jauh dari Utama. Tempat yang dulu megah itu sekarang mangkrak, dengan papan 'dijual/disewakan' terpampang. Pagarnya cuma diberi ranting-ranting pohon untuk mencegah orang masuk. Berada di kawasan hutan, kesan angker lebih kuat ketimbang nostalgia.
Tapi, kematian bisnis kuliner di jalur ini tidak mutlak. Masih ada yang bertahan, meski banyak yang kini hanya mengandalkan pelanggan lokal. Di Caruban, Warung Makan Titin masih ramai. Rahasianya sederhana: lokasinya dibangun persis di pintu keluar tol. Banyak bus antarprovinsi sengaja keluar tol sebentar, hanya untuk makan dan istirahat singkat kurang dari satu jam, sebelum kembali melanjutkan perjalanan di jalur cepat.
Entah sudah berapa banyak warung makan yang gulung tikar di sepanjang jalur Solo-Surabaya, dari Ngawi hingga Mojokerto. Jalan tol memang menghadirkan kemudahan yang tak terbantahkan perjalanan jadi lebih singkat dan nyaman. Namun di sisi lain, kehadirannya melemahkan denyut ekonomi di jalur lama secara nyata.
Bagi mereka yang pernah merasakan hiruk-pikuknya puluhan tahun lalu, jalur lama ini kini hanya menyisakan kenangan. Sebuah memori dari era yang bergerak lebih pelan, yang kian tertinggal oleh deru waktu yang makin cepat.
Artikel Terkait
Enam hingga Tujuh Penumpang Masih Terjebak di Kereta Argo Bromo Anggrek Usai Tabrakan dengan KRL di Bekasi Timur
Kanselir Jerman Akui Barat Meremehkan Kekuatan Iran dan Kecam Strategi Negosiasi AS
ESDM Dorong CNG sebagai Alternatif Pengganti LPG untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur Tewaskan 6 Penumpang, 80 Luka-luka