Yang mengejutkan, konsumsi BBM-nya ternyata cukup irit. Berdasarkan pengukuran MID, di rute perkotaan kami catat angka 13,5 km/l. Sementara di tol Pasar Minggu sampai KM 130, angkanya bahkan mencapai 16,6 km/l.
Efisiensi ini didukung siklus Atkinson dan intercooler pendingin air yang menjaga suhu kerja mesin tetap optimal. Jadi, performa bagus tapi boros? Nggak selalu.
Setelah ratusan kilometer menjelajah dari Jakarta hingga pusat Jogja, akhirnya bar indikator bensin menunjukkan tanda bahaya. Saat itu kami sedang berhenti di jalan menanjak di daerah Kaliurang untuk bertanya pada warga setempat.
Dua anggota tim turun untuk memasang perangkat video di kap mobil.
Tiba-tiba, mesin mati.
Momen itu menandai akhir perjalanan 'satu tangki' kami. Total jarak yang berhasil kami tempuh: 604,5 km dengan 45 liter bensin. Rata-rata konsumsinya 13,4 km/l.
Capaian yang menurut kami cukup impresif, mengingat kami berkendara secara normal nggak neko-neko. Kecepatan wajar, AC tetap nyala buat kenyamanan semua penumpang.
Perjalanan ini membuktikan satu hal: efisiensi bahan bakar tidak harus mengorbankan performa atau kenyamanan. Destinator berhasil menunjukkan bahwa semuanya bisa berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Target Meleset, Airbus Hanya Kirim 793 Pesawat Sepanjang 2025
Menyingkap Kedung Kayang: Pesona dan Perhatian di Bawah Rindang Merapi
Knesset Bergemuruh: Seruan Pendudukan Gaza Langgar Rencana Damai AS
Zahra Muzdalifah Bocorkan Resep Pelatih Ideal untuk Garuda Pertiwi