"Kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang, karena kami belum mendengar kabar apa pun,"
katanya, suaranya penuh kepedihan, kepada The Associated Press.
Sedikit cerita yang muncul adalah tentang sebagian anak yang berhasil melarikan diri saat mereka digiring paksa masuk ke dalam semak-semak.
Pemerintah Negara Bagian Niger sendiri mengeluarkan pernyataan resmi. Isinya menyebutkan bahwa mereka sebenarnya sudah punya informasi intelijen tentang ancaman yang membayangi wilayah tersebut. Bahkan, surat peringatan untuk menutup sementara aktivitas sekolah sudah dikeluarkan.
Yang menjadi sorotan, pernyataan itu juga mengungkap bahwa Sekolah St Mary ternyata tetap buka meski sudah dapat peringatan. Itu pun dilakukan tanpa meminta izin dari pemerintah setempat.
Rentetan peristiwa mengerikan ini memaksa Presiden Bola Tinubu mengambil langkah darurat. Dia membatalkan kunjungannya ke KTT G20 di Afrika Selatan. Wakil Presiden, Kashim Shettima, yang akhirnya berangkat menggantikannya.
Gelombang penculikan dan serangan terhadap gereja pada awal pekan ini terjadi di tengah situasi politik yang sedang memanas. Beberapa pekan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan aksi militer ke Nigeria. Dia menuding pemerintah gagal melindungi umat Kristen.
Tuduhan itu pun dibantah keras oleh pemerintah Nigeria. Mereka menegaskan bahwa justru Muslim lah yang menjadi mayoritas korban dalam serangan-serangan kelompok bersenjata selama ini.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Tegaskan Anggaran Rp60 Triliun untuk Pascabencana Bukan Anggaran Mati
Bencana November 2025: 25 Desa di Aceh dan Sumut Terhapus dari Peta
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026