“Orang tua kami tidak dalam posisi restu-merestui atau dukung-mendukung pihak mana pun yang sedang berselisih," jelas Haniatunnisa lagi.
"Beliau berkomitmen penuh pada keputusan Forum Sesepuh dan Musytasar NU di Tebuireng."
Klaim Zulfa sendiri sebelumnya cukup vokal. Dalam konferensi pers di Hotel Sultan, Selasa (9/12) malam, usai ditetapkan sebagai Pj, ia menyebut diri bukan cuma santri biasa.
"Tidak perlu disebut, saya pasti bukan cuma santri, saya keponakan Kiai Haji Ma'ruf Amin. Saya keponakan Kiai Haji Ma'ruf Amin, dan saya sudah minta restu beliau," kata Zulfa kala itu.
Ia juga menekankan legitimasi lain: bahwa dirinya adalah santri dari Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar.
"Saya bukan siapa-siapa, saya santri daripada Rais Aam, dan juga santri Syuriyah PBNU. Tentu juga santri kiai-kiai pesantren-pesantren besar yang malam hari ini tidak bisa hadir," ujarnya.
Namun begitu, penegasan dari keluarga Ma'ruf Amin kini mengubah narasi. Klaim restu itu dipatahkan, menyisakan situasi yang justru makin rumit di tubuh NU.
Artikel Terkait
Pengamat Desak Reshuffle, Soroti Kinerja Bahlil hingga Raja Juli
PSI Soroti Modal Politik Gibran: Pengalaman Wapres Jadi Aset Langka di Pilpres 2029
Buku Kontroversial Gibran Segera Diserbu ke Seluruh Anggota DPR
Fahri Sindir Anies: Gagasan Global South Itu Omongan Pak Prabowo yang Sudah Lama