Johan Lange, direktur olahraga Tottenham, juga tak kalah semangat. Menurutnya, De Zerbi adalah target utama klub sejak musim panas lalu.
Namun begitu, jalan menuju penandatanganan ini tidak mulus. Sejarahnya cukup berliku. Tottenham disebut sudah dua kali mencoba mendekati De Zerbi, termasuk saat hendak menggantikan Ange Postecoglou. Kala itu, di bawah bayang-bayang mantan ketua Daniel Levy, tawaran itu ditolak. Ketertarikan kembali muncul setelah Igor Tudor dipecat. Kali ini, negosiasi berjalan lancar. Konon, kunci utamanya adalah otonomi yang lebih besar diberikan kepada De Zerbi, termasuk dalam pengambilan keputusan manajerial di klub.
Di sisi lain, kedatangannya tidak sepenuhnya disambut meriah. Sebagian suporter, khususnya kelompok 'Women of the Lane', menyuarakan penentangan. Mereka menyoroti komentar De Zerbi tentang Mason Greenwood saat masih melatih Marseille. Bagi mereka, pernyataan itu dianggap meremehkan kekerasan terhadap perempuan dan berpotensi membawa risiko budaya yang buruk ke dalam klub.
Tantangan di lapangan pun sudah menunggu. Posisi Tottenham saat ini cukup mengkhawatirkan: peringkat 17, cuma selisih satu poin dari zona merah degradasi. Pertandingan perdana De Zerbi akan berlangsung di Stadium of Light melawan Sunderland tanggal 11 April. Lalu, pekan depannya, dia langsung dihadapkan dengan ujian emosional: melawan mantan klubnya, Brighton.
Jadi, begitulah situasinya. Dengan kontrak lima tahun tanpa 'jalan keluar' mudah, De Zerbi seperti menaruh semua telurnya dalam satu keranjang. Tugasnya ganda: mengangkat performa tim yang sedang terpuruk sekaligus membangun fondasi budaya dan permainan untuk masa depan. Bisa tidak? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Pelatih Dewa United Ingatkan Ivar Jenner: Panggilan Timnas Bukan Akhir Segalanya
Thom Haye: Persib Siap Bertempur Mati-matian untuk Pertahankan Puncak Klasemen di Padang
Tiga Striker Brasil Bersaing Ketat di Puncak Klasemen Pencetak Gol Super League
Mohamed Salah Diprediksi Tinggalkan Liverpool, Liga Pro Saudi Jadi Tujuan Utama