"Hari ini kami melawan tim bagus dari Eropa, dan saya rasa kami tampil lebih baik dari mereka," terangnya.
Pernyataan itu bukan sekadar hiburan. Kalau dicermati, permainan Indonesia terlihat lebih terstruktur dan berani. Mereka tidak gentar, bahkan mendikte permainan di beberapa fase. Tapi ya itu tadi, sepak bola kadang kejam. Dominasi belum tentu jadi jaminan tiga poin.
Namun begitu, Verdonk tak mau tim larut terlalu lama. Kekalahan ini harus jadi bahan bakar. Fokusnya sekarang adalah bagaimana bangkit dan mengubah performa bagus itu jadi kemenangan nyata di pertandingan mendatang.
"Sekarang kami harus bisa memenangkan pertandingan seperti ini dan terus berkembang," pungkasnya singkat.
Pesan jelas. Ada fondasi yang ditinggalkan pelatih baru. Ada semangat yang terpantik. Tinggal bagaimana mengasah efektivitas di depan gawang lawan. Hasil pahit di final ini, kalau dipetik pelajarannya, bisa jadi modal berharga untuk laga-laga selanjutnya.
Artikel Terkait
Herdman Soroti Performa Cemerlang Calvin Verdonk di Tengah Kekalahan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Puji Level Timnas Indonesia Usai Kemenangan Tipis di Final FIFA Series
Nagelsmann Peringatkan Jerman Soal Disiplin Posisi Meski Taklukkan Ghana
PSIS Semarang Hajar Persipal 6-1, Keluar dari Zona Degradasi