Kontroversi Penalti Akhiri Upaya Timnas Indonesia di Final FIFA Series

- Selasa, 31 Maret 2026 | 09:00 WIB
Kontroversi Penalti Akhiri Upaya Timnas Indonesia di Final FIFA Series

Kediri - John Herdman memang membawa angin segar untuk Timnas Indonesia. Dalam dua laga di FIFA Series 2026, pelatih asal Inggris itu menunjukkan fleksibilitas. Ia tak ragu mengganti taktik, menyesuaikan dengan lawan yang dihadapi.

Lihat saja saat Indonesia menang telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis. Tim pimpinan Jay Idzes itu tampil percaya diri. Mereka bermain dengan determinasi tinggi, memadukan umpan panjang dengan kombinasi satu-dua sentuhan yang apik. Dua skema permainan berbeda berjalan mulus dalam satu pertandingan.

Namun begitu, pendekatannya berubah total saat berhadapan dengan Bulgaria di partai puncak. Di SUGBK yang ramai, Senin malam lalu, Herdman memilih formasi yang lebih kompak. Fokusnya jelas: mendominasi penguasaan bola. Para pemain tampak diatur untuk bermain lebih rapat, menjaga struktur dengan disiplin.

Sayangnya, semua usaha itu harus pupus oleh sebuah insiden kontroversial. Gawang Emil Audero akhirnya bobol juga di menit ke-38. Gol itu berasal dari titik putih, dieksekusi sempurna oleh Marin Petkov.

Awalnya, wasit Nazmi Nasaruddin dari Malaysia sama sekali tidak melihat adanya pelanggaran. Permainan berlanjut. Tapi kemudian, semuanya berubah setelah intervensi VAR. Diputuskan bahwa Diks dinyatakan melakukan pelanggaran terhadap Zdravko Dimitrov.

Keputusan itu langsung memicu polemik. Banyak yang berpendapat kontak antara kaki Diks dan Dimitrov terlihat sangat minim, hampir tidak ada. Tapi, ya, keputusan wasit sudah bulat.

Mengenai permainan, analis Toni Ho memberikan catatan menarik. Menurutnya, meski kedua tim punya pendekatan taktis yang mirip, Bulgaria punya senjata pamungkas: transisi.

"Timnas Indonesia dan Bulgaria memakai taktik sama, tapi transisi lawan lebih bagus. Pemain Bulgaria cepat saat bertahan ke menyerang. Terutama saat mereka kembali ke belakang, ketika Timnas Indonesia menyerang,"

Jadi, meski harus puas dengan posisi runner-up, ada banyak pelajaran berharga dari turnamen ini. Warna baru Herdman mulai terlihat, meski masih perlu penyempurnaan. Yang jelas, perjalanan masih panjang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar