Doni Tata Pradita Soroti Mental dan Proses Veda Ega Pratama Pasca Podium Moto3 Brasil

- Rabu, 25 Maret 2026 | 15:30 WIB
Doni Tata Pradita Soroti Mental dan Proses Veda Ega Pratama Pasca Podium Moto3 Brasil

Doni juga menyoroti perubahan ekosistem pembinaan di dalam negeri. Dulu, perjalanan ke level dunia terasa serabutan dan kurang arah. Sekarang, jalurnya mulai jelas. Pembalap tidak langsung ‘dilempar’ ke arena paling berat tanpa persiapan memadai, tapi ditempa setahap demi setahap.

“Saat ini penjenjangannya sudah bagus. Pembalap ditempa dulu di Asia lalu ke Eropa sebelum ke kejuaraan dunia. Jadi lebih siap,”

katanya.

Poin ini penting. Kesuksesan Veda bukan cuma kisah personal seorang anak ajaib, tapi juga cerminan dari sistem yang mulai berfungsi dengan baik.

Tapi, di balik semua optimisme itu, ada satu tantangan besar: konsistensi.

Moto3 terkenal sebagai kelas yang brutal dan tak terduga. Selisih waktu antar pembalap seringkali sangat tipis, hanya sepersekian detik. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal, menjungkalkan balapan yang sudah bagus. Dalam dunia seperti ini, satu podium saja belum cukup untuk menyematkan label ‘penantang gelar’.

Perjalanan masih sangat panjang.

Doni paham betul soal itu. Harapannya terdengar sederhana, tapi punya bobot yang dalam: Veda harus bisa menjaga performa di setiap seri, terus belajar, dan jangan cepat berpuas diri.

“Mudah-mudahan dia bisa terus berkembang di setiap seri dan membawa nama Indonesia lebih baik lagi di level dunia,”

harap Doni.

Nah, di sinilah pertanyaan besarnya muncul: sejauh apa Veda bisa melangkah?

Moto3 sering disebut sebagai gerbang. Mereka yang bisa bertahan dan tampil konsisten di sini punya peluang untuk naik ke Moto2, lalu akhirnya ke puncak impian: MotoGP. Podium di Brasil mungkin baru sebuah awal. Tapi dalam skema besar, itu adalah langkah pertama yang sangat krusial. Sebuah tanda bahwa pembalap Indonesia tidak lagi cuma jadi figuran, tapi mulai menulis ceritanya sendiri.

Dan pada akhirnya, seperti yang diingatkan Doni, semuanya kembali ke satu hal yang paling susuk diukur: mental.

Karena di lintasan yang sama, dengan mesin yang nyaris setara, yang membedakan pemenang dan yang lain seringkali bukan siapa yang paling cepat tapi siapa yang paling berani.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar