Di sisi lain, manajemen klub tentu tak tinggal diam. Menanggapi situasi pelik ini, rapat evaluasi digelar. Ahmad Amiruddin, Direktur Teknik PSM, mengungkapkan pembahasan tak cuma soal taktik.
Dalam rapat itu, semua pihak sepakat untuk kembali menggenggam erat filosofi klub: Siri’ na Pacce. Semangat khas Sulawesi Selatan tentang harga diri dan pantang menyerah itu harus dihidupkan kembali. Itulah roh mereka.
Yang menarik, meski kompetisi libur menyambut Lebaran, pemain-pemain PSM memilih untuk tetap latihan. Sebuah keputusan yang tak biasa. Biasanya, masa libur dimanfaatkan untuk pulang kampung atau sekadar istirahat panjang.
Tapi tidak untuk skuad Juku Eja kali ini. Mereka memilih bertahan, berkomitmen penuh untuk memperbaiki keadaan. Itu sinyal bagus, setidaknya dari sisi kedisiplinan.
Namun begitu, semua niat baik itu harus dibuktikan di lapangan. Fakta berbicara: dalam lima laga terakhir, PSM sama sekali tak merasakan kemenangan. Empat di antaranya malah berakhir dengan kekalahan. Rentetan hasil buruk inilah yang membuat posisi mereka terus merosot dan memberi harapan pada tim-tim di bawahnya.
Jalan keluar sebenarnya masih terbuka lebar. Peluang untuk bertahan di Liga 1 masih ada, asal mereka bisa memenangi laga-laga krusial. Duel melawan Persis dan Madura United adalah momentum mutlak. Menang di sana, napas akan kembali lega. Gagal? Sembilan laga tersisa akan terasa seperti neraka.
Bagi PSM Makassar, sisa musim ini bukan cuma soal angka di klasemen. Ini lebih dari itu. Ini tentang mempertahankan marwah dan harga diri sebuah klub besar yang namanya sudah terukir lama dalam sejarah sepak bola Indonesia. Tantangan terberat mereka justru datang dari dalam.
Artikel Terkait
Indonesia Gagal Bawa Pulang Gelar dari Swiss Open 2026
Alwi Farhan Gagal Juara Swiss Open, Indonesia Pulang Tanpa Gelar
Pontianak Tuan Rumah AVC Champions League 2026
Bruno Gomes Bangkit, Persis Solo Hajar Bali United 3-0