Asrul, seorang lelaki berusia 72 tahun, tak bisa menyembunyikan rasa keheranannya. Di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Banten, ia harus merogoh kocek hampir dua kali lipat dari harga yang tertera di tiket untuk bisa naik kapal. Padahal, tiket itu sendiri ia dapatkan langsung dari seorang petugas pengecekan.
Perjalanan mudik Asrul dari Bekasi menuju Padang ini memang tak mulus. Awalnya, dia berniat berangkat dari Pelabuhan Merak. Tapi karena membawa sepeda motor, dia malah diarahkan ke Pelabuhan Ciwandan. Jadilah, Minggu malam itu, sekitar pukul 23.00, dia sudah sampai di sana dengan satu masalah: dia tak punya tiket online.
"Pas di pintu loket, petugasnya tanya, 'Pak, HP bapak mana?'."
"Saya jawab saja, 'Enggak punya'. Nah, akhirnya dia yang bantuin," cerita Asrul.
Bantuan itu ternyata tak gratis. Petugas tersebut memintanya membayar Rp 80.000. Asrul pun menurut. Namun, rasa janggal langsung muncul begitu ia melihat secarik kertas tiket di tangannya. Tertera jelas di sana: harga normalnya cuma Rp 45.000. "Lho, kok beda jauh?" pikirnya. "Ini kan petugas resmi," ujarnya kemudian.
Merasa tidak terima, Asrul pun memberanikan diri untuk komplain. Dia mendatangi petugas lain dan melaporkan kejadian aneh tadi. Tak lama, dia dipertemukan kembali dengan oknum petugas yang membantunya membeli tiket tadi.
Untungnya, masalah ini berakhir baik. Setelah diadukan, selisih uang yang telah dibayarkan Asrul akhirnya dikembalikan. Tiket seharga Rp 45.000 itu pun tetap sah untuk digunakan. Meski begitu, pengalaman itu meninggalkan kesan tak sedap di hati pria sepuh itu di tengah keriuhan arus mudik.
Artikel Terkait
Polisi Wanita Indonesia Raih Penghargaan PBB Berkat Inovasi Digitalisasi Data Kriminal di Afrika Tengah
Wapres Gibran Ajak Mahasiswa dalam Kunjungan Kerja ke Ende, Gorontalo, dan Papua, Akademisi Nilai Langkah Strategis
Remaja Perempuan di Jayapura Tewas Setelah Dibakar Ibu Tiri Usai Cekcok di Kedai Pinang
Jadwal Salat Makassar 20 Juni 2026: Imsak Pukul 04.38 Wita, Subuh 04.48 Wita