BIPI Mulai Transisi dari Batu Bara ke Energi Hijau, Targetkan Divestasi Anak Usaha

- Rabu, 29 April 2026 | 07:30 WIB
BIPI Mulai Transisi dari Batu Bara ke Energi Hijau, Targetkan Divestasi Anak Usaha

Emiten milik Grup Bakrie, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), lagi-lagi bikin gebrakan. Kali ini mereka mulai mengutak-atik fokus bisnis. Gak tanggung-tanggung, dari yang tadinya mengandalkan batu bara, sekarang perlahan-lahan mereka merapat ke sektor energi yang lebih ramah lingkungan.

Menurut riset dari Samuel Sekuritas Indonesia, transisi ini udah berjalan. BIPI nargetin ekspansi ke tiga lini utama. Ada liquefied natural gas (LNG), lalu waste-to-energy (WTE), dan panas bumi alias geotermal. Nah, gak cuma itu, baru-baru ini mereka juga ngasih sinyal bakal melepas bisnis batu bara lewat divestasi anak usaha.

Kurniawati Budiman, Corporate Secretary BIPI, ngomong gini soal rencana tersebut. Katanya, prosesnya masih tahap penjajakan awal. Mereka masih jajaki beberapa calon pembeli potensial. Langkah ini, menurut dia, bagian dari strategi besar untuk merapikan portofolio investasi. Sekaligus, buat mempercepat transformasi ke sektor energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dia juga bilang, BIPI pengin banget fokus ke infrastruktur energi bersih. Ke depannya, alokasi investasi bakal lebih banyak digelontorkan ke energi terbarukan. Harapannya, portofolio jadi lebih optimal dan seimbang. Gak cuma dari sisi keuangan jangka pendek, tapi juga keberlanjutan jangka panjang.

Tapi, Kurniawati menegaskan, sampai sekarang belum ada dokumen mengikat yang ditandatangani. Baik itu Letter of Intent (LoI) maupun perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA). Semuanya masih sebatas penjajakan.

“Namun demikian, struktur portofolio pasca divestasi akan sangat bergantung pada realisasi transaksi serta peluang investasi yang tersedia ke depan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (28/4).

Transisi ke Nonbatu Bara: Masih Butuh Waktu?

Samuel Sekuritas Indonesia punya pandangan sendiri. Mereka menilai, kenaikan harga energi yang lagi terjadi sekarang ini bisa jadi bensin buat memperlancar proses transisi. Tapi, di sisi lain, mereka juga ngelihat BIPI masih sangat bergantung sama batu bara sebagai sumber pendapatan utama.

Lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Iran katanya bakal mengangkat prospek pendapatan perusahaan. Belum lagi, kenaikan kuota produksi lewat RKAB diprediksi bakal nambah volume penjualan batu bara. Jadi, meski mau pindah haluan, bisnis lamanya masih jadi tulang punggung.

Samuel Sekuritas meyakini, faktor-faktor tadi bakal bikin BIPI balik mencetak laba positif pada 2026. Pertumbuhan ini juga ditopang oleh peningkatan volume produksi yang cukup kuat. Manajemen BIPI sendiri nargetin tambahan produksi sekitar 1 juta ton per tahun. Targetnya, sampai 8 juta ton dalam jangka menengah.

Nah, produksi yang gede ini diproyeksikan bakal memperkuat arus kas operasional. Dengan begitu, pendanaan internal buat ekspansi bisnis ke depan bisa lebih lancar.

Di luar urusan batu bara, BIPI udah mulai garap tiga segmen utama: LNG, WTE, dan panas bumi. Untuk LNG, perusahaan menargetkan kapasitas awal 2,5 mmscfd pada paruh kedua 2026. Nanti, ditingkatkan jadi 20 mmscfd pada 2027–2028. Gak cuma itu, mereka juga berencana bangun dua fasilitas LNG di Batam masing-masing berkapasitas 50 mmscfd dengan target operasi komersial (COD) pada 2029. Lalu satu lagi di Aceh pada 2030–2031.

Sementara buat bisnis pembangkit sampah, BIPI mulai masuk lewat kemitraan dengan Danantara. Mereka ikut serta dalam skema tender pemerintah.

“Seperti yang ditunjukkan melalui partisipasi dalam tender gelombang kedua untuk proyek Yogyakarta dengan kapasitas total 1.500 ton,” tulis riset Samuel Sekuritas, dikutip Selasa (28/4).

Setelah arus kas dari bisnis non-batu bara mulai stabil, barulah BIPI berencana melebarkan sayap ke panas bumi. Targetnya, proyek geotermal berkapasitas 150 MW di Ponorogo, Jawa Timur. Estimasi mulai berproduksi pada 2031.

Samuel Sekuritas bilang, dorongan terhadap energi terbarukan bakal makin kuat dalam jangka menengah. Apalagi, seiring perkembangan teknologi dan peningkatan kapasitas yang terus berlangsung.

“Terutama seiring permintaan listrik tambahan yang meningkat seiring perkembangan AI dan pusat data,” tulis mereka.

Saat ini, pendapatan BIPI memang masih didominasi batu bara. Tapi, LNG, geotermal, dan WTE ditargetkan bisa menyumbang 50% pada tahun 2028.

Berikut jadwal proyek panas bumi Ponorogo:

Tahun Tahapan Keterangan
2026–2027 Drilling & Feasibility Study Pengeboran dan studi kelayakan buat nilai potensi panas bumi
2028 Konstruksi PLTP (jika layak) Konstruksi pembangkit dimulai kalau hasil studi mendukung
2029 Pembangunan Data Center Bangun data center di lokasi, bareng infrastruktur energi
2031 Target COD Target mulai operasi komersial proyek geotermal dan fasilitas pendukung

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar