Pencarian yang Berujung Kosong
Upaya peredaman sempat dilakukan. Kapten tim, Yuran Fernandes, terlihat berdiskusi alot dengan perwakilan suporter. Tapi tuntutan mereka jelas: ingin Trucha keluar dan berhadapan dengan mereka. Panggilan nama pelatih itu bergema berulang kali, tanpa jawaban.
Savio Roberto, gelandang andalan, bahkan berinisiatif menjemput pelatihnya. Ia masuk ke ruang ganti, mencoba membujuk. Beberapa menit kemudian, Savio kembali dengan wajah masam dan gelengan kepala. Isyaratnya jelas: Trucha ogah keluar.
Keputusan Trucha untuk bersembunyi ternyata berlanjut. Ia juga mangkir dari kewajiban berikutnya: konferensi pers pasca-pertandingan. Kursi untuk pelatih kepala di depan awak media dibiarkan kosong. PSM hanya diwakili asisten pelatih, Ahmad Amiruddin, dan pemain Rizky Eka Pratama.
Keheningan Trucha di saat krisis ini, alih-alih meredakan, justru menyulut sorotan lebih tajam. Bukan cuma dari suporter yang kecewa, tapi juga dari pengamat yang mempertanyakan kredibilitas kepemimpinannya. Kekalahan di lapangan mungkin biasa. Tapi lari dari tanggung jawab? Itu cerita lain yang bakal terus melekat pada namanya.
Artikel Terkait
PSM Makassar Terancam Degradasi Usai Ditaklukkan Persita
Flick Yakin Barcelona Bisa Balikkan Agregat 0-4 Lawan Atletico
Liverpool Kejar Tiket Liga Champions di Markas Wolverhampton
Arbeloa Tanggung Jawab atas Kekalahan Madrid, Tegaskan Masih Ada 36 Poin untuk Diperjuangkan