Suasana di ruang pers Bernabéu terasa berat. Álvaro Arbeloa berdiri di hadapan awak media, mencerna kekalahan 0-1 dari Getafe yang baru saja mengguncang markas mereka. Pekan ke-26 La Liga ini meninggalkan rasa pahit.
Namun begitu, semangatnya tak tampak patah. Sorot matanya masih tajam.
"Masih ada 36 poin di depan sana. Dan tujuan kami cuma satu: berjuang merebut semuanya. Di sini, di Real Madrid, tidak ada kata menyerah. Tidak akan ada yang menyerah sampai peluit akhir musim nanti berbunyi," tegas Arbeloa, suaranya lantang mengisi ruangan.
Ia tak menampik bahwa jarak empat poin dari puncak klasemen adalah tantangan. Tapi justru itulah yang memacu mereka. "Selisih itu bisa dikejar. Kami yakin. Dan perjuangan itu akan dimulai langsung di Vigo nanti," imbuhnya, menegaskan kembali komitmen skuadnya.
Laga Penuh Kesempatan yang Terbuang
Menurut Arbeloa, timnya sebenarnya tak pantas pulang dengan tangan hampa. "Saya lihat kami punya peluang yang lebih jelas ketimbang Getafe. Jelas, ada aspek permainan yang bisa kami tingkatkan. Tapi dalam hal menciptakan peluang, kami lebih dominan," ujarnya.
Ia lalu merinci momen-momen krusial. Ada peluang Vinicius di babak pertama yang seharusnya jadi gol. Lalu, kesempatan dari Rüdiger dan Rodrygo di babak kedua. "Kami mencoba sejak menit awal. Punya beberapa peluang bagus. Menurut saya, kami pantas mencetak gol."
Tapi sepak bola, katanya, kadang tak adil. "Getafe melakukan pekerjaan dengan hebat, seperti biasanya. Kami sudah tahu betul model permainan seperti apa yang akan dihadapi. Tidak ada kejutan. Mereka cetak gol bagus, kami gagal memanfaatkan peluang. Begitulah kadang hasil akhir ditentukan."
Tetap Tenang di Tengai Badai
Arbeloa berusaha meredam kepanikan. Ia mengakui, kekalahan seperti ini membuat segalanya terlihat suram. Harapan seakan menguap. Tapi justru di saat seperti itu, tujuan harus tetap jelas.
"Targetnya tetap 36 poin itu. Kami punya laga berat di Vigo, dan itu harus dimenangkan. Lalu ada duel besar Liga Champions melawan Manchester City. Tapi percayalah, tidak satu pun dari kami mengabaikan La Liga. Semua poin akan dikejar, sambil menyadari bahwa performa memang harus lebih baik lagi," paparnya panjang lebar.
Ia menolak menyalahkan usaha anak asuhnya. "Soal effort, saya tidak akan pernah mengkritik. Itu sudah maksimal. Kalau soal kualitas permainan yang perlu ditingkatkan, itu tanggung jawab saya."
Percaya Bisa Bangkit
Dua kekalahan beruntun? Bagi Arbeloa, itu bukan akhir dari segalanya. "Saya lihat tim ini punya pemain-pemain hebat, skuad yang berkualitas. Mereka pasti bisa pulih dan membantu tim. Tugas kami adalah terus memperbaiki diri, tahu bahwa kami bisa tampil lebih baik di lapangan."
Ia paham betul persepsi publik usai kekalahan. Tapi ia berpegang pada analisis objektifnya. "Terlepas dari penilaian buruk atau baik permainan kami, saya tetap yakin kami menciptakan peluang lebih banyak daripada Getafe. Hanya saja, bola tak mau masuk. Mereka main cerdas, kami tidak efektif. Titik."
Mencari Solusi di Lapangan
Arbeloa membandingkan laga ini dengan kekalahan di Pamplona. "Hari ini, kami kesulitan menghadapi blok pertahanan yang sangat rapat. Mereka tidak menekan bek tengah kami saat membangun serangan. Mungkin kami butuh lebih agresif di lini depan, menjejalkan lebih banyak pemain di area akhir, dengan pergerakan yang lebih hidup."
"Kami sering terjebak pada pilihan 'mudah', yaitu memberi bola ke Vinicius. Kemampuan dribelnya memang luar biasa. Tapi kami harus bisa mengancam dari kedua sisi sayap, menjadi bahaya yang konstan dari sana. Itu salah satu hal yang harus diperbaiki," ungkapnya jujur.
Laga ini, diakui Arbeloa, berjalan tersendat-sendat. "Banyak gangguan. Wasit membiarkan permainan sering terhenti. Bukan mau menyalahkan Getafe, mereka hanya memainkan aturan. Tapi menghadapi kesulitan seperti itu, kami memang gagal menciptakan lebih banyak peluang. Meski menurut saya, peluang yang ada seharusnya cukup untuk membuahkan gol. Tapi ya, masih banyak ruang untuk perbaikan."
Tanggung Jawab Ada di Pundak Saya
Dengan tegas, Arbeloa mengulur tangannya untuk disalahkan. "Saya tidak bilang tim ini tidak bisa bermain bagus. Jangan salah paham. Kami ciptakan peluang. Tapi memang, kami bisa bermain lebih baik. Sekali lagi, usaha pemain tidak bisa disalahkan. Itu hal utama yang saya minta. Soal peningkatan kualitas permainan, itu tanggung jawab saya. Tugas saya."
"Kalau ada yang harus bertanggung jawab atas kekalahan ini, itu saya. Saya yang bertanggung jawab. Sekarang yang tersisa hanya bekerja lebih keras bersama para pemain," tegasnya tanpa keraguan.
Soal Pergantian Pemain yang Mengundang Cemoohan
Arbeloa juga menjelaskan logika di balik keputusannya menarik beberapa pemain. Alaba diganti karena cedera ringan, tapi juga untuk menambah agresivitas dalam membangun serangan dari belakang. Carvajal masuk untuk memberi lebar dan dinamika di sisi kanan. Rodrygo dipasang karena kemampuannya menciptakan celah di ruang sempit.
Tapi pergantian Thiago-lah yang paling banyak disorot, bahkan dicemooh suporter. Arbeloa mencoba menjernihkan. "Saya sudah sering bilang, saya tidak menarik pemain karena mereka bermain buruk. Thiago tampil bagus. Usahanya luar biasa. Bahkan, penampilannya tidak seperti debutan. Dia harus bangga."
"Kalau saya yang dicemooh karena keputusan itu, saya terima. Saya paham. Tapi pergantian itu bukan tentang performa buruk. Justru, dia pantas dapat tepuk tangan," tambahnya.
Tidak Ada Alasan untuk Ketidakhadiran Bintang
Terakhir, ia menampik segala bentuk dalih. Ditanya soal absennya pemain-pemain penting seperti Bellingham atau Mbappé, Arbeloa bersikap lugas.
"Setiap kalah, nama-nama besar itu selalu disebut. Tapi kami adalah Real Madrid. Saya tidak akan pakai ketidakhadiran mereka sebagai alasan. Kami punya pemain dengan kualitas yang cukup untuk menang. Titik," tandasnya menutup konferensi pers.
Ruang pers pun kembali senyap. Pekerjaan rumah menumpuk. Perjalanan masih panjang.
Artikel Terkait
Mantan Kiper Arsenal dan Austria, Alex Manninger, Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api
Nathan Tjoe-A-On Kembali Bermain Usai Kasus Paspor, Willem II Raih Kemenangan
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara
PSSI Siapkan Kompetisi Baru yang Berjalan Paralel dengan Liga Mulai 2026