Tancredo Neves Meninggal Sebelum Dilantik, Brasil Kehilangan Presiden Sipil Pertama Pasca-Rezim Militer

- Sabtu, 25 April 2026 | 17:30 WIB
Tancredo Neves Meninggal Sebelum Dilantik, Brasil Kehilangan Presiden Sipil Pertama Pasca-Rezim Militer

Tahun 1985 jadi momen yang pahit buat Brasil. Presiden terpilih mereka, Tancredo Neves, meninggal dunia sebelum sempat resmi dilantik. Iya, bayangkan sudah menang pemilu, rakyat bersorak, tapi dia malah pergi selamanya. Penyakit yang udah lama dia lawan akhirnya menang. Padahal, selama bertahun-tahun dia jadi oposisi pemerintah, tubuhnya mungkin sudah terkuras.

Brasil sendiri punya sejarah kelam soal militer. Menurut buku 'The Politics of Military Rule in Brazil, 1964-85' karya Thomas Skidmore, negara ini diperintah oleh rezim militer selama dua dasawarsa lebih. Tepatnya dari 1964 sampai 1985. Lima jenderal bergantian memegang kendali. Yang terakhir adalah João Baptista de Oliveira Figueiredo. Tapi masa kepemimpinannya mulai goyah. Muncul seorang tokoh oposisi sipil yang karismatik: Tancredo Neves.

Nah, Tancredo ini akhirnya terpilih jadi presiden. Dia bakal jadi presiden sipil pertama setelah bertahun-tahun di bawah kekuasaan militer. Kemenangannya? Bukan tanpa perjuangan. Dia dapat dukungan dari delegasi partai politik yang membelot. Belum lagi rakyat Brasil yang sudah muak capek, lelah, dan ingin perubahan. Suasana waktu itu, menurut sejumlah saksi, terasa penuh harapan.

Tiga bulan sebelum pelantikan, Tancredo malah sibuk keliling dunia. Ke Amerika Serikat, Eropa, sampai Amerika Latin. Di Washington, dia bertemu dengan Kongres AS, Gedung Putih, dan lembaga pemberi pinjaman multilateral. Dia juga ngobrol dengan kelompok keagamaan dan akademisi. Semua itu demi membangun hubungan baik. Di Eropa Barat, dia berunding dengan pemerintah dan partai politik. Bahkan sempat berziarah ke Vatikan.

Tapi di balik semua itu, ada satu masalah: usia. Tancredo sudah 75 tahun. Dia pengen banget membuktikan kalau dirinya masih kuat. Bahwa dia sanggup memimpin. Sayangnya, tubuh punya batas. Penyakit usus mulai menggerogotinya. Berbulan-bulan dia berjuang. Operasi dijalani, antibiotik dari dokter keluarga jadi andalan. Tapi pada akhirnya, semuanya sia-sia. Brasil kehilangan pemimpin yang bahkan belum sempat duduk di kursi presiden.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar