Data Dinkes DKI Ungkap 94,9% Warga Jakarta Kurang Aktivitas Fisik

- Selasa, 17 Februari 2026 | 12:30 WIB
Data Dinkes DKI Ungkap 94,9% Warga Jakarta Kurang Aktivitas Fisik

MURIANETWORK.COM - Data kesehatan terkini dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tingginya prevalensi obesitas sentral dan gaya hidup kurang gerak di kalangan warga Ibu Kota. Temuan ini didapat dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 2,5 juta penduduk. Plt. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Sri Puji Wahyuni, menyebut dua masalah ini sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular yang perlu mendapat perhatian serius.

Angka Obesitas Sentral dan Kurang Aktivitas Fisik

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, dari 1.720.658 orang yang diperiksa lingkar perutnya, sebanyak 579.812 orang atau sekitar 33,7 persen tercatat mengalami obesitas sentral. Kondisi ini ditandai dengan penumpukan lemak berlebih di area perut, yang secara medis dikenal sebagai faktor risiko tinggi untuk berbagai penyakit kronis.

Lebih lanjut, dari 446.116 orang yang menjalani pemeriksaan terkait aktivitas fisik, hasilnya cukup mencengangkan. Sebanyak 423.521 orang, atau setara dengan 94,94 persen, dinyatakan kurang melakukan aktivitas fisik yang memadai.

"Sekitar 33,7 persen (dari orang yang diperiksa lingkar perut) mengalami obesitas sentral," ungkap Sri Puji Wahyuni.

Dia melanjutkan, temuan terbanyak dari skrining kesehatan ini memang berasal dari kelompok risiko penyakit kardiovaskular, terutama obesitas sentral dan kurangnya aktivitas fisik. Data ini menjadi gambaran nyata tantangan kesehatan masyarakat urban yang perlu segera diatasi.

Strategi Perluasan Skrining dan Intervensi

Menyikapi temuan tersebut, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berencana memperluas jangkauan skrining faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) melalui dua pendekatan utama. Pendekatan pertama adalah dengan memperkuat layanan di seluruh fasilitas kesehatan primer, seperti puskesmas.

Kedua, pendekatan melalui komunitas akan diintensifkan. Skrining akan dibawa lebih dekat ke warga melalui Posyandu, lingkungan kerja, dan sekolah. Strategi ini diharapkan dapat menjaring lebih banyak orang yang mungkin belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan kesehatannya secara mandiri.

Program Penggerak Gaya Hidup Sehat

Selain skrining, upaya promotif dan preventif juga digencarkan melalui berbagai program inovatif. Salah satunya adalah "Jakarta Berjaga" (Bergerak, Bekerja, Berolahraga dan Bahagia) yang kini memasuki tahun kedua. Program ini menantang peserta untuk konsisten berjalan minimal 7.500 langkah per hari selama 21 hari berturut-turut, dengan harapan kebiasaan sehat ini akan tertanam dalam keseharian.

Program lain yang digulirkan adalah "Challenge Downgrade, Ukuran Bajumu". Konsepnya sederhana namun bermakna: mendorong masyarakat untuk menurunkan ukuran baju melalui perbaikan gaya hidup.

"Maksudnya bukan hanya soal penampilan, tetapi mengurangi berat badan berlebih, memperbaiki kebugaran, dan menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung serta komplikasinya," jelas Puji.

Program ini dilengkapi dengan anjuran menerapkan pola makan sehat berdasarkan konsep "Isi Piringku", beraktivitas fisik minimal 30 menit per hari, serta rutin memeriksakan kesehatan. Edukasi berkelanjutan juga dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk media sosial, untuk membangun pemahaman kolektif tentang pentingnya hidup sehat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar