MURIANETWORK.COM - Data kesehatan terkini dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tingginya prevalensi obesitas sentral dan gaya hidup kurang gerak di kalangan warga Ibu Kota. Temuan ini didapat dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 2,5 juta penduduk. Plt. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Sri Puji Wahyuni, menyebut dua masalah ini sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular yang perlu mendapat perhatian serius.
Angka Obesitas Sentral dan Kurang Aktivitas Fisik
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, dari 1.720.658 orang yang diperiksa lingkar perutnya, sebanyak 579.812 orang atau sekitar 33,7 persen tercatat mengalami obesitas sentral. Kondisi ini ditandai dengan penumpukan lemak berlebih di area perut, yang secara medis dikenal sebagai faktor risiko tinggi untuk berbagai penyakit kronis.
Lebih lanjut, dari 446.116 orang yang menjalani pemeriksaan terkait aktivitas fisik, hasilnya cukup mencengangkan. Sebanyak 423.521 orang, atau setara dengan 94,94 persen, dinyatakan kurang melakukan aktivitas fisik yang memadai.
"Sekitar 33,7 persen (dari orang yang diperiksa lingkar perut) mengalami obesitas sentral," ungkap Sri Puji Wahyuni.
Dia melanjutkan, temuan terbanyak dari skrining kesehatan ini memang berasal dari kelompok risiko penyakit kardiovaskular, terutama obesitas sentral dan kurangnya aktivitas fisik. Data ini menjadi gambaran nyata tantangan kesehatan masyarakat urban yang perlu segera diatasi.
Artikel Terkait
Hujan dan Angin Kencang di Bandung Tewaskan Satu Orang, 33 Pohon Tumbang
Tiga Dapur Makanan Bergizi Gratis di Kaimana Ditutup Sementara Gara-gara IPAL Tak Standar
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi