Presiden Venezuela Dibelenggu di Penjara Brooklyn yang Bobrok

- Minggu, 04 Januari 2026 | 23:25 WIB
Presiden Venezuela Dibelenggu di Penjara Brooklyn yang Bobrok

Nicolas Maduro, sang presiden Venezuela, kini mendekam di balik jeruji. Bukan di Caracas, melainkan di Metropolitan Detention Center (MDC) di Brooklyn, New York. Penjara federal yang satu ini reputasinya sungguh suram.

Bayangkan sebuah tempat yang dibangun tahun 90-an untuk mengatasi kepadatan, tapi malah jadi sorotan karena kondisinya yang mengenaskan. Kekurangan staf itu sudah biasa. Lalu ada masalah kekerasan antar-napi yang kerap terjadi. Belum lagi pemadaman listrik yang bisa berhari-hari. Pokoknya, bukan tempat yang nyaman untuk siapa pun.

Pengacara Marc Agnifilo pernah merasakan sendiri betapa buruknya fasilitas ini. Saat membela Sean Combs tahun lalu, ia tak sungkan menyampaikan keluhannya.

"Sangat sulit menjadi narapidana di sana," ujarnya.

Menurut Agnifilo, lingkungan MDC yang keras dan penuh risiko itu menyulitkan persiapan persidangan kliennya. Dan dia tidak berlebihan.

Kekerasan? Sudah jadi menu harian. Pertengahan 2024, seorang napi tewas ditikam. Cuma selang sebulan, ada lagi yang meninggal akibat perkelahian. Tapi mungkin insiden paling parah terjadi pada 2019, ketika listrik padam hampir seminggu penuh. Ribuan tahanan terpaksa bertahan dalam gelap dan dingin, dengan toilet rusak dan sanitasi yang amburadul. Kasus itu berakhir dengan kompensasi 10 juta dolar AS untuk sekitar 1.600 tahanan yang jadi korban.

Nah, setelah penjara di Manhattan tutup karena kasus Jeffrey Epstein, MDC jadi satu-satunya penjara federal yang melayani New York City. Makin penuh saja. Tempat ini pernah 'menampung' banyak pesohor. Dari penyanyi R. Kelly, sosialita Ghislaine Maxwell, sampai mantan raja kripto Sam Bankman-Fried. Bahkan Sean "Diddy" Combs dan dugaan bos kartel narkoba, Ismael "El Mayo" Zambada Garcia, juga pernah merasakan dinginnya sel di sini.

Lalu, Bagaimana dengan Maduro?

Penangkapannya berawal dari dakwaan serius yang dilayangkan Jaksa Agung AS, Pam Bondi. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, didakwa di Distrik Selatan New York atas tuduhan konspirasi terorisme narkoba, impor kokain, hingga kepemilikan senjata otomatis.

"Mereka akan segera menghadapi murka keadilan Amerika sepenuhnya di tanah Amerika, di pengadilan Amerika," tulis Bondi dengan nada tegas.

Dakwaan untuk Maduro sebenarnya sudah ada sejak 2020, sementara untuk istrinya baru terungkap belakangan. Pemerintahan Trump bahkan sampai menggandakan imbalan penangkapannya jadi 50 juta dolar AS pada Agustus 2025. Maduro dituduh sebagai otak di balik Cartel de los Soles, organisasi narkoba transnasional yang ditakuti. Trump sendiri kerap menuding Venezuela sebagai eksportir utama narkoba ke AS dan menuduh Caracas menyita aset minyak milik perusahaan Amerika.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Maduro bukan presiden sah. Klaimnya merujuk pada pemilu yang dianggap cacat oleh banyak pengamat internasional.

Jadi, dengan ditahannya seorang kepala negara di penjara kumuh Brooklyn, dunia kini menunggu. Proses hukumnya akan seperti apa di tengah kondisi MDC yang bobrok? Kasus ini jelas lebih dari sekadar masalah pidana. Ini adalah cermin ketegangan geopolitik lama antara Washington dan Caracas, di mana minyak dan narkoba menjadi isu yang terus membayangi setiap langkah mereka.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar