Di tengah ketegangan yang memanas di Timur Tengah, muncul pertanyaan besar: bisakah Donald Trump benar-benar menjadi pencipta perdamaian? Seorang pengamat politik dari Kuwait punya jawaban yang cukup sinis. Menurut Abdullah al-Shayji, profesor ilmu politik di Universitas Kuwait, ambisi Trump lebih sederhana: ia ingin jadi "pemimpin acara".
Pernyataan itu disampaikannya dalam Forum Al Jazeera di Doha. "Trump ingin menjadi pemimpin; ia ingin menjadi nomor satu," ujarnya. Namun begitu, apa yang disebut Dewan Perdamaian bentukan Trump dinilainya samar-samar dan, yang lebih penting, tak punya legitimasi.
Al-Shayji tak sungkan menyoroti sekutu utama Trump di kawasan itu. "[Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu dicari oleh ICC, dan ia seharusnya diserahkan, dan ia masih melakukan kejahatan perang setiap hari," katanya tegas.
Di sisi lain, logika sang profesor cukup tajam. Menurutnya, mustahil membangun perdamaian sambil bersiap perang. "Anda tidak dapat menciptakan perdamaian ketika Anda bersiap untuk perang dan mengancam," papar al-Shayji. Ia juga menekankan bahwa koalisi dengan Netanyahu yang sudah ditemui Trump untuk keenam kalinya justru kontraproduktif. "Trump ingin menjadi tokoh perdamaian internasional dengan slogan atau isu apa pun... tetapi Anda tidak dapat menciptakan perdamaian ketika Anda membentuk koalisi dengan Netanyahu," pungkasnya.
Lalu, bagaimana dengan isu nuklir Iran yang selalu jadi batu ujian? Tampaknya, ada celah negosiasi. Hassan Ahmadian, profesor ilmu politik di Universitas Teheran, memberikan sudut pandang berbeda. Ia mengatakan bahwa kebijakan Trump soal "tidak adanya bom nuklir Iran" sebenarnya masih bisa dibicarakan.
Artikel Terkait
Iran Tuntut Penarikan Pasukan AS dan Ganti Rugi sebagai Syarat Akhiri Perang
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran