Persebaya Raih Kemenangan Penting, Tantangan Berat Lawan Persib Menanti

- Jumat, 27 Februari 2026 | 22:30 WIB
Persebaya Raih Kemenangan Penting, Tantangan Berat Lawan Persib Menanti

SURABAYA – Tiga poin. Itu yang didapat Persebaya, Rabu malam. Tapi rasanya, kemenangan tipis 1-0 atas PSM Makassar itu jauh lebih berharga dari sekadar angka. Setelah dua kekalahan beruntun yang bikin was-was, hasil ini seperti angin segar. Gol Gali Freitas di menit ke-27 cukup membawa pulang kemenangan di Stadion Gelora Bung Tomo.

Wajah Bernardo Tavares di pinggir lapangan terlihat lega. Bukan cuma karena menang. Tapi karena timnya sepertinya mulai menemukan kembali keyakinan yang sempat buyar. Hal kecil yang sering jadi pembeda antara menang dan kalah.

“Kemenangan ini semoga membuat pemain lebih percaya diri,” ujarnya usai laga.

Kalimatnya sederhana. Tapi konteksnya jelas. Di depan, ujian jauh lebih berat sudah menunggu: Persib Bandung, sang pemuncak klasemen.

Dan bagi Tavares, duel nanti punya rasa personal. Selama berkarier di Indonesia, pelatih asal Portugal itu belum pernah sekalipun menang melawan Bojan Hodak, arsitek Persib. Rekor itu pasti terasa mengganjal.

Persib sendiri bukan lawan sembarangan. Mereka adalah simbol stabilitas. Juara bertahan yang lagi-lagi memimpin klasemen dengan koleksi 50 poin, menunjukkan konsistensi yang bikin iri. Pertemuan pertama musim ini masih jadi kenangan pahit bagi Persebaya; kalah 0-1 pada September lalu. Laga yang menunjukkan betapa efisiennya Maung Bandung, dan betapa Persebaya saat itu kurang tajam.

Namun begitu, suasana sekarang agak berbeda. Setidaknya secara mental. Persebaya datang membawa kemenangan, dan atmosfer di ruang ganti pasti lebih hidup.

Meski begitu, kemenangan atas PSM juga menyisakan catatan yang belum tuntas. Persebaya melepaskan 20 tembakan. Hanya enam yang mengarah ke gawang, dan cuma satu yang jadi gol. Statistik itu seperti potret musim mereka: dominan mencipta peluang, tapi kerap gagal dalam penyelesaian akhir.

“Banyak peluang, banyak tembakan, tapi akurasinya kurang,” kata Tavares, lebih terdengar seperti evaluasi jujur daripada keluhan.

Ia bilang latihan finishing sudah jadi menu harian. Tembakan dari jarak jauh, kombinasi serangan, semua diulang-ulang. Tapi sepak bola tak selalu mengikuti skenario latihan. Ada faktor ketenangan, insting, dan keputisan di detik-detik krusial. Di situlah Persebaya masih mencari formula terbaiknya.

Ada ironi menarik dalam laga melawan PSM. Bagi Tavares, ini seperti berhadapan dengan masa lalunya sendiri. Dulu ia yang membangun fondasi kompetitif Juku Eja, kini justru menyaksikan mereka terpuruk dengan tiga kekalahan beruntun.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar