Pelatih PSM, Tamas Trucha, mengakui betapa pahitnya kekalahan berulang dengan selisih tipis.
“Kami sering kalah 1-0 atau 1-2. Itu menyakitkan,” ucapnya.
Masalah PSM sebenarnya mirip dengan Persebaya, cuma berada di sisi lapangan yang berbeda: kurang tajam di depan gawang. Sepak bola memang kejam. Seringkali, selisih satu gol itu yang memisahkan tim penuh percaya diri dengan tim yang mulai bingung.
Kini, semua fokus tertuju ke Bandung. Laga melawan Persib bukan cuma soal perebutan poin, tapi juga uji taktik dan mental.
Hodak dikenal sebagai pelatih pragmatis. Timnya tak selalu mendominasi penguasaan bola, tapi hampir selalu lebih cerdik dalam momen-momen penentu. Mereka bermain dingin, tahu kapan harus menekan dan kapan cukup menunggu lawan salah langkah.
Sebaliknya, Persebaya masih dalam proses mencari identitas permainan yang benar-benar solid. Jadi, pertemuan nanti ibarat duel filosofi: efisiensi ala Hodak berhadapan dengan intensitas ala Tavares.
Ini lebih dari sekadar pertandingan liga biasa bagi sang pelatih. Ini kesempatan emas untuk mematahkan kutukan pribadinya. Dan dalam sepak bola, narasi seperti itu bisa jadi bahan bakar ekstra bagi seluruh skuad.
Persebaya saat ini berada di posisi yang menarik. Belum sepenuhnya stabil, tapi peluang belum tertutup. Kemenangan atas PSM memberi mereka ruang untuk bernapas, sekaligus sedikit harapan bahwa momentum bisa berbalik.
Pertanyaan besarnya: apakah kemenangan kecil di GBK itu cukup jadi batu loncatan untuk kebangkitan?
Atau justru Persib akan kembali memberi pelajaran bahwa konsistensi selalu mengalahkan euforia sesaat?
Jawabannya cuma satu: tunggu saja whistle ditiup. Saat ambisi Green Force bertemu dengan ketenangan sang juara.
Artikel Terkait
PSIS Janjikan Bonus Spesial untuk Kemenangan Krusial di Kandang Persiba Balikpapan
Undian Liga Champions Bentuk Dua Jalur Berbeda: Jalan Tol dan Kubu Neraka
Persebaya Menang, Namun Performa Kiper dan Lini Belakang Masih Jadi Titik Rapuh
Drawing Liga Champions: Manchester City Vs Real Madrid Jadi Duel Utama Babak 16 Besar