SURABAYA – Tiga poin. Itu yang didapat Persebaya, Rabu malam. Tapi rasanya, kemenangan tipis 1-0 atas PSM Makassar itu jauh lebih berharga dari sekadar angka. Setelah dua kekalahan beruntun yang bikin was-was, hasil ini seperti angin segar. Gol Gali Freitas di menit ke-27 cukup membawa pulang kemenangan di Stadion Gelora Bung Tomo.
Wajah Bernardo Tavares di pinggir lapangan terlihat lega. Bukan cuma karena menang. Tapi karena timnya sepertinya mulai menemukan kembali keyakinan yang sempat buyar. Hal kecil yang sering jadi pembeda antara menang dan kalah.
“Kemenangan ini semoga membuat pemain lebih percaya diri,” ujarnya usai laga.
Kalimatnya sederhana. Tapi konteksnya jelas. Di depan, ujian jauh lebih berat sudah menunggu: Persib Bandung, sang pemuncak klasemen.
Dan bagi Tavares, duel nanti punya rasa personal. Selama berkarier di Indonesia, pelatih asal Portugal itu belum pernah sekalipun menang melawan Bojan Hodak, arsitek Persib. Rekor itu pasti terasa mengganjal.
Persib sendiri bukan lawan sembarangan. Mereka adalah simbol stabilitas. Juara bertahan yang lagi-lagi memimpin klasemen dengan koleksi 50 poin, menunjukkan konsistensi yang bikin iri. Pertemuan pertama musim ini masih jadi kenangan pahit bagi Persebaya; kalah 0-1 pada September lalu. Laga yang menunjukkan betapa efisiennya Maung Bandung, dan betapa Persebaya saat itu kurang tajam.
Namun begitu, suasana sekarang agak berbeda. Setidaknya secara mental. Persebaya datang membawa kemenangan, dan atmosfer di ruang ganti pasti lebih hidup.
Meski begitu, kemenangan atas PSM juga menyisakan catatan yang belum tuntas. Persebaya melepaskan 20 tembakan. Hanya enam yang mengarah ke gawang, dan cuma satu yang jadi gol. Statistik itu seperti potret musim mereka: dominan mencipta peluang, tapi kerap gagal dalam penyelesaian akhir.
“Banyak peluang, banyak tembakan, tapi akurasinya kurang,” kata Tavares, lebih terdengar seperti evaluasi jujur daripada keluhan.
Ia bilang latihan finishing sudah jadi menu harian. Tembakan dari jarak jauh, kombinasi serangan, semua diulang-ulang. Tapi sepak bola tak selalu mengikuti skenario latihan. Ada faktor ketenangan, insting, dan keputisan di detik-detik krusial. Di situlah Persebaya masih mencari formula terbaiknya.
Ada ironi menarik dalam laga melawan PSM. Bagi Tavares, ini seperti berhadapan dengan masa lalunya sendiri. Dulu ia yang membangun fondasi kompetitif Juku Eja, kini justru menyaksikan mereka terpuruk dengan tiga kekalahan beruntun.
Pelatih PSM, Tamas Trucha, mengakui betapa pahitnya kekalahan berulang dengan selisih tipis.
“Kami sering kalah 1-0 atau 1-2. Itu menyakitkan,” ucapnya.
Masalah PSM sebenarnya mirip dengan Persebaya, cuma berada di sisi lapangan yang berbeda: kurang tajam di depan gawang. Sepak bola memang kejam. Seringkali, selisih satu gol itu yang memisahkan tim penuh percaya diri dengan tim yang mulai bingung.
Kini, semua fokus tertuju ke Bandung. Laga melawan Persib bukan cuma soal perebutan poin, tapi juga uji taktik dan mental.
Hodak dikenal sebagai pelatih pragmatis. Timnya tak selalu mendominasi penguasaan bola, tapi hampir selalu lebih cerdik dalam momen-momen penentu. Mereka bermain dingin, tahu kapan harus menekan dan kapan cukup menunggu lawan salah langkah.
Sebaliknya, Persebaya masih dalam proses mencari identitas permainan yang benar-benar solid. Jadi, pertemuan nanti ibarat duel filosofi: efisiensi ala Hodak berhadapan dengan intensitas ala Tavares.
Ini lebih dari sekadar pertandingan liga biasa bagi sang pelatih. Ini kesempatan emas untuk mematahkan kutukan pribadinya. Dan dalam sepak bola, narasi seperti itu bisa jadi bahan bakar ekstra bagi seluruh skuad.
Persebaya saat ini berada di posisi yang menarik. Belum sepenuhnya stabil, tapi peluang belum tertutup. Kemenangan atas PSM memberi mereka ruang untuk bernapas, sekaligus sedikit harapan bahwa momentum bisa berbalik.
Pertanyaan besarnya: apakah kemenangan kecil di GBK itu cukup jadi batu loncatan untuk kebangkitan?
Atau justru Persib akan kembali memberi pelajaran bahwa konsistensi selalu mengalahkan euforia sesaat?
Jawabannya cuma satu: tunggu saja whistle ditiup. Saat ambisi Green Force bertemu dengan ketenangan sang juara.
Artikel Terkait
Acosta Akui Aprilia dan Ducati Ancaman Serius, Tapi KTM Tak Menyerah
AC Milan Siapkan Rencana Perombakan Lini Depan, Dybala Jadi Target Utama
Era Emas Berakhir: Lima Juara Dunia Bulu Tangkis Pensiun di Puncak Karier
Arbeloa Yakin Real Madrid Bisa Balikkan Keadaan di Kandang Bayern