Industri Semen Terancam Mati Gara-gara Pasokan Batu Bara Tersendat

- Rabu, 15 April 2026 | 01:15 WIB
Industri Semen Terancam Mati Gara-gara Pasokan Batu Bara Tersendat

Gangguan pasokan batu bara mulai mengancam roda industri semen dalam negeri. Kalau dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin produksi di sejumlah pabrik bakal terhenti total. Situasinya memang sudah kritis.

Menurut Lilik Unggul Raharjo, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), masalah utamanya ada di proses perizinan. RKAB atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya dari para pemasok batu bara ternyata belum sepenuhnya disetujui pemerintah. Akibatnya, pasokan pun tersendat.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Beberapa pabrik terpaksa menghentikan operasinya. Sebut saja PT Solini Bangun Indonesia di Cilacap dan juga di Tuban. Itu baru permulaan.

Lilik mengungkapkan hal itu dalam acara Halal Bi Halal ASPERSSI di Jakarta, Selasa lalu.

"Ada laporan beberapa pabrik mati di SBI Cilacap, dan juga Tuban. Potensinya, kalau supply benar-benar habis dan RKAB tak kunjung terbit, pabrik lain akan menyusul. Syukurlah, sekarang sebagian RKAB sudah mulai dikeluarkan," ujarnya.

Data internal asosiasi per akhir Maret lalu cukup mengkhawatirkan. Stok batu bara yang tersisa rata-rata cuma cukup untuk bertahan sampai pertengahan April ini. Artinya, waktu mereka benar-benar mepet.

Namun begitu, persoalannya tak cuma soal izin yang molor. Ada faktor kebijakan yang ikut memperkeruh keadaan. Penerbitan Naskah Dinas terbaru, misalnya, yang memprioritaskan pengalokan batu bara untuk kebutuhan PLN. Belum lagi Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2025 yang secara tegas menyuruh agar batu bara diutamakan untuk perusahaan pelayanan publik dan BUMN.

Di sisi lain, industri semen merasa posisinya terjepit. Mereka sudah melapor ke pemerintah, termasuk ke Kementerian ESDM, tentang situasi darurat ini. Tapi, kejelasan masih belum tampak.

Christian Kartawijaya, Ketua Pengawas ASPERSSI, menambahkan satu poin penting. Industri masih menunggu kepastian soal kebijakan DMO batu bara khusus untuk semen. Harapannya sederhana: skema yang adil.

"Kalau kebijakan DMO diterapkan, kami ingin mendapat kesempatan yang setara. Biar kompetisinya fair," sebut Christian.

Potensi pabrik yang terancam mati berikutnya cukup banyak. Mulai dari pabrik Semen Indonesia di Tuban, unit produksi SBI lainnya di Tuban, hingga pabrik-pabrik milik Conch di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Daftarnya mungkin akan bertambah panjang jika pasokan tak kunjung mengalir dalam waktu dekat.

Jadi, beginilah situasinya. Industri semen seperti menatap jam pasir yang hampir habis. Mereka menunggu solusi, sambil berharap roda produksi tidak benar-benar berhenti berputar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar