DPR Kritik Wacana Makan Bergizi Gratis untuk Anak Sekolah di Jeddah, Minta Pemerintah Prioritaskan Program di Dalam Negeri

- Selasa, 02 Juni 2026 | 13:35 WIB
DPR Kritik Wacana Makan Bergizi Gratis untuk Anak Sekolah di Jeddah, Minta Pemerintah Prioritaskan Program di Dalam Negeri

Wacana perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, menuai kritik tajam dari anggota DPR. Irma Suryani Chaniago, anggota Komisi IX DPR RI, menilai pemerintah seharusnya memprioritaskan penyelesaian distribusi program tersebut di dalam negeri sebelum menjangkau wilayah luar negeri.

“Menurut hemat saya, kita urus dulu yang di dalam negeri. Masih banyak anak sekolah di Indonesia yang belum mendapatkan jatah MBG,” ujar Irma kepada wartawan, Selasa (2/7/2026).

Irma mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk terlebih dahulu membuktikan efektivitas program MBG dalam meningkatkan imunitas dan kecerdasan anak. Ia juga menekankan pentingnya pencapaian tujuan utama program, yaitu menurunkan angka kelahiran anak stunting.

“Fokus dulu urus yang di dalam negeri agar fungsi MBG dapat dibuktikan, betul-betul dapat meningkatkan imunitas anak dan IQ anak, juga menurunkan tingkat kelahiran anak stunting dengan fokus pada nilai gizi yang didistribusikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” tegasnya.

Di sisi lain, Irma meminta BGN mempertimbangkan kemampuan fiskal negara. Ia juga menyoroti aspek pengawasan yang akan menjadi tantangan jika program tersebut benar-benar direalisasikan di Arab Saudi.

“Jika bicara hak, maka anak-anak Buruh Migran Indonesia (BMI) di seluruh dunia juga berhak mendapatkan program yang sama. Namun, lihat juga kemampuan fiskal negara untuk bisa melaksanakan itu, belum lagi nanti kontrolnya di tiap negara yang minta juga. Nggak usah jauh-jauh ke Saudi, anak-anak BMI di Malaysia jauh lebih banyak dan butuh perhatian,” katanya.

Sementara itu, wacana ini pertama kali dilontarkan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana. Ia menyebutkan rencana untuk menghadirkan program MBG bagi anak-anak sekolah Indonesia di Jeddah, dan akan melaporkan usulan tersebut terlebih dahulu kepada Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan itu disampaikan Dadan saat mengunjungi Sekolah Indonesia Jeddah. Menurutnya, terdapat sekitar 1.000 anak pekerja migran yang menempuh pendidikan di lembaga tersebut.

“Saya diminta datang ke Sekolah Indonesia Jeddah, di mana di situ ada kurang lebih 1.081 anak-anak pekerja migran yang dididik. Saya kira ini program yang bagus karena bisa membuat anak-anak pekerja migran itu punya harapan masa depan,” kata Dadan, Selasa (2/6/2026).

Dadan menambahkan, sekitar 100 siswa dan 56 guru menyambut antusias kedatangannya. Dalam kesempatan itu, para siswa secara spontan menyampaikan keinginan untuk menikmati program MBG seperti yang dirasakan oleh teman-teman mereka di Indonesia.

“Mereka spontan ingin menikmati program yang dirasakan oleh teman-temannya di Indonesia,” ujarnya.

Namun, Dadan menegaskan bahwa usulan tersebut masih perlu mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo. Jika terealisasi, program ini direncanakan menjadi proyek percontohan bagi daerah lain yang memiliki komunitas pekerja migran Indonesia.

“Jadi kita tadi datang untuk melihat dan nanti saya akan laporkan ke Presiden apakah dimungkinkan kita membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Sekolah Indonesia Jeddah. Dan juga mungkin nanti ada juga pekerja-pekerja migran di Malaysia dan di kebun-kebun dan sebagainya, ini bisa menjadi suatu pilot project,” katanya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar