Peserta Open Trip ke Korsel Diduga Kabur, Kemlu Turun Tangan

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:05 WIB
Peserta Open Trip ke Korsel Diduga Kabur, Kemlu Turun Tangan

Seorang peserta open trip asal Madiun berinisial FY (21) dilaporkan meninggalkan rombongan wisatanya di Korea Selatan. Kementerian Luar Negeri RI bersama KBRI Seoul kini tengah berkoordinasi untuk mencari keberadaan WNI yang diduga menyalahgunakan fasilitas imigrasi tersebut.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, membenarkan bahwa pihaknya telah mencermati informasi terkait kasus ini. "Kemlu mencermati pemberitaan mengenai adanya oknum WNI atas nama FY yang diduga menyalahgunakan fasilitas kemudahan masuk ke Korea Selatan dengan meninggalkan rombongan wisata dan melanggar ketentuan keimigrasian setempat," ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Heni, pemerintah Indonesia melalui KBRI Seoul terus berupaya memperkuat kerja sama mobilitas masyarakat dengan Korea Selatan. Namun, tindakan segelintir oknum dinilai dapat mengganggu kepercayaan otoritas setempat. "Tindakan segelintir oknum yang menyalahgunakan fasilitas tersebut sangat disayangkan dan tidak mencerminkan mayoritas WNI yang melakukan perjalanan secara sah dan bertanggung jawab," tegasnya.

Kemlu mengimbau seluruh WNI untuk mematuhi ketentuan yang berlaku di negara tujuan. "Kepatuhan setiap WNI tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan otoritas negara mitra serta mendukung upaya pemerintah untuk terus memperluas kemudahan mobilitas bagi masyarakat Indonesia," tambah Heni.

Kronologi Kejadian

Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky, menjelaskan bahwa rombongan berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Pada malam pertama tur, 28 Juni 2026, peserta diberikan waktu bebas setelah rangkaian agenda selesai. Sekitar lima hingga tujuh orang, termasuk Femas, berjalan-jalan di kawasan Myeongdong bersama tour leader (TL). Di lokasi, Femas berpamitan dengan alasan ingin mencari sepatu.

Femas diketahui sekamar dengan tour leader. Ketika TL kembali ke hotel, ia sempat mengirim pesan agar Femas langsung masuk karena pintu sengaja diganjal. "Ditunggu sampai pagi ternyata tidak pulang sama sekali. WhatsApp sempat centang satu, kadang centang dua, tapi tidak pernah dibalas," ujar Wiky.

Awalnya, agensi travel mengira Femas tersesat. Tour leader dan tim menyisir area terakhir tempat Femas berpamitan dan mencoba menghubunginya berkali-kali. "Sampai hari keempat, tim lokal kami langsung mencoba membuat laporan ke Kepolisian Korea. Namun, laporannya ditolak karena tidak ada unsur tindak pidana. Dia dikategorikan memisahkan diri secara sadar, bukan sebagai orang hilang," jelas Wiky.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags