Kopi Decaf Jadi Primadona Baru di Negeri Peminum Kopi Terbanyak

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:06 WIB
Kopi Decaf Jadi Primadona Baru di Negeri Peminum Kopi Terbanyak

Di tengah budaya minum kopi yang mengakar kuat, Korea Selatan justru mencatat fenomena unik: kopi tanpa kafein atau decaf menjadi kategori dengan pertumbuhan tercepat di industri kafe. Padahal, rata-rata warga Korea mengonsumsi 416 cangkir kopi per tahun.

Kopi decaf yang dulu hanya dianggap sebagai pilihan alternatif bagi ibu hamil atau mereka yang sensitif terhadap kafein, kini merambah ke berbagai segmen konsumen. Tren ini didorong oleh keinginan untuk tetap menikmati kopi di malam hari tanpa khawatir gangguan tidur.

Data bea cukai Korea Selatan menunjukkan impor biji kopi decaf pada paruh pertama tahun ini mencapai 5.387 ton, naik 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sepanjang tahun lalu, impor kopi decaf untuk pertama kalinya menembus 10.000 ton, tepatnya 10.040 ton lebih dari dua kali lipat dibandingkan 4.755 ton pada 2021.

Sebaliknya, impor biji kopi berkafein justru menurun. Setelah mencapai puncak sekitar 195.000 ton pada 2022, volumenya terus merosot menjadi 184.600 ton pada tahun lalu.

Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat Korea akan kesehatan dan gaya hidup sehat. Alih-alih berhenti minum kopi, konsumen memilih mengurangi kandungan tertentu, seperti kafein dan gula. Banyak orang tetap minum kopi biasa di pagi hari, lalu beralih ke kopi decaf pada sore atau malam hari.

Jaringan kedai kopi pun berlomba memenuhi permintaan. Ediya Coffee memungkinkan pelanggan mengganti semua minuman berbasis espresso dengan biji kopi decaf. Perusahaan juga memperluas lini produknya di luar gerai, termasuk kopi stik yang memadukan kopi decaf dengan jelai Italia sangrai, serta latte decaf siap minum yang dijual secara eksklusif melalui kanal daring.

Popularitas kopi decaf juga merambah ke menu non-konvensional. Twosome Place mengombinasikan milk tea rooibos bebas kafein dengan satu shot espresso decaf dalam lini produk milk tea terbarunya. Sementara itu, Compose Coffee pada April lalu meluncurkan kampanye iklan yang dibintangi anggota BTS, V, dengan menggambarkan kopi decaf sebagai teman belajar dua mahasiswa hingga larut malam.

Peningkatan kualitas proses produksi turut mengubah citra kopi decaf yang dulu dianggap hambar. Produsen kini mulai meninggalkan pelarut kimia dan beralih ke metode penghilangan kafein menggunakan air atau karbon dioksida. Cara ini mampu mempertahankan tingkat keasaman dan karakter rasa biji kopi sehingga banyak penikmat kopi tidak lagi bisa membedakan rasa kopi decaf dengan kopi biasa.

Starbucks, misalnya, menghilangkan 99,9 persen kandungan kafein hanya dengan menggunakan karbon dioksida superkritis dan uap air untuk menjaga cita rasa serta aroma kopi. Strategi tersebut membuahkan hasil. Pada tahun lalu, Starbucks menjual 45,5 juta cangkir kopi decaf, meningkat 39 persen dibandingkan 2024. Konsumen berusia 20 hingga 30 tahun menyumbang sekitar 60 persen dari total pembelian. Menu Americano decaf bahkan menjadi minuman terlaris ketiga di jaringan tersebut, sementara porsi penjualannya meningkat hampir dua kali lipat, dari 6,6 persen pada 2019 menjadi 13 persen pada tahun lalu.

Regulasi Decaf Bakal Diperketat

Pesatnya pertumbuhan pasar kopi decaf juga mendorong pemerintah memperketat regulasi. Saat ini, suatu produk masih dapat diberi label "decaf" apabila setidaknya 90 persen kandungan kafeinnya telah dihilangkan standar yang lebih longgar dibandingkan standar internasional sebesar 99 persen.

Aturan tersebut akan berubah mulai 1 Januari 2028, ketika standar baru dari Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Korea Selatan mulai berlaku. Berdasarkan aturan baru itu, hanya kopi dengan sisa kandungan kafein maksimal 0,1 persen berdasarkan kandungan padatan yang boleh menggunakan label "decaffeinated" atau mengklaim dibuat dari biji kopi decaf.

Profesor ilmu konsumen di Inha University, Lee Eun-hee, mengatakan preferensi terhadap kopi decaf belakangan ini merupakan kelanjutan dari tren personalisasi. Hal tersebut menandakan konsumen menyesuaikan kandungan bahan yang mereka konsumsi dengan kondisi kesehatan dan selera masing-masing.

"Dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kebugaran, kafein kini menjadi faktor yang sama pentingnya dalam memilih minuman seperti halnya protein atau gula," ujar Lee.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags