Asisten Khusus Presiden Prabowo Subianto, Dirgayuza, mengungkapkan sosok Nanik S Deyang yang baru saja ditunjuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Dadan Hindayana. Dalam pengamatannya selama dua dekade mendampingi Presiden, Dirgayuza menilai Nanik merupakan salah satu sahabat perempuan Prabowo yang paling tangguh dan sederhana.
Dirgayuza menceritakan bahwa perkenalan dirinya bersama Presiden Prabowo dengan Nanik terjadi sekitar 13 tahun lalu, menjelang Pemilu 2014. “Waktu itu, di sebuah sore yang cerah, kami mampir ke kantor redaksi The Politics di kawasan Menteng. Bu Nanik adalah pemimpin redaksinya,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Rabu, 3 Juni 2026.
Pertemuan tersebut diawali dengan beberapa cangkir kopi. Ada kopi yang disiapkan Nanik, dan ada kopi yang dibawa sendiri oleh Prabowo dalam sebuah termos yang kini dikenal banyak orang sebagai Kopi Hambalang. “Pertemuan yang tadinya dijadwalkan singkat menjadi berjam-jam,” kata Dirgayuza.
Menurut Dirgayuza, Nanik memiliki semacam magis yang sulit dijelaskan. Ia selalu mampu mengeluarkan versi terbaik dari orang yang diajaknya berbicara. “Hari itu, yang keluar adalah versi terbaik Prabowo Subianto. Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah wawancara di DPP Gerindra yang sampai hari ini, menurut saya, masih menjadi salah satu wawancara terbaik Pak Prabowo,” ujarnya.
Dirgayuza mengaku merinding saat menonton ulang video wawancara itu. Hampir semua yang dibahas dalam wawancara tersebut kini terbukti seiring perjalanan waktu. Banyak cita-cita yang saat itu terdengar jauh, hari ini telah menjadi kenyataan. “Namun kontribusi Bu Nanik di perjalanan Pak Prabowo jauh melampaui urusan media. Bu Nanik adalah seorang penggerak,” ujar dia.
Dirgayuza menilai Nanik merupakan sosok yang tidak bisa diam ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Ia tidak bisa berpaling ketika melihat kesulitan. Salah satu contohnya, Nanik merupakan orang yang mengungkapkan kasus Wilfrida Soik kepada Prabowo. Wilfrida Soik adalah pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur yang terancam hukuman mati di Malaysia. “Setelah mendengar cerita itu, Pak Prabowo bergerak mencari dan membiayai tim pengacara terbaik untuk membela Wilfrida,” ujar Dirgayuza.
Selain itu, Nanik juga yang mengusulkan perakitan dan pembagian becak listrik untuk para pengayuh becak lanjut usia. Menurut Dirgayuza, ide sederhana itu lahir dari empati yang mendalam, yaitu bagaimana orang-orang yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik dan hidup yang lebih bermartabat.
Ketika kemudian dipercaya oleh Presiden Prabowo menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, karakter itu tidak berubah. Alih-alih duduk nyaman di belakang meja, Nanik justru menggagas inspeksi mendadak (sidak) BGN ke dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah. “Karena bagi Nanik, sebaik-baiknya gagasan adalah gagasan yang benar-benar terlaksana dengan baik. Angka di laporan bisa terlihat sempurna. Tetapi kualitas makanan anak-anak Indonesia hanya bisa dipastikan dengan melihat langsung ke lapangan,” ujar Dirgayuza.
“Karena itulah ia datang sendiri. Memeriksa dapur. Mengecek kebersihan. Berbicara dengan petugas. Mendengar keluhan. Mencari solusi. Lalu kembali berangkat ke tempat berikutnya,” tambahnya.
Namun, dari semua itu, hal yang paling membekas di pikiran Dirgayuza tentang Nanik bukanlah jabatan, penghargaan, atau kedekatannya dengan tokoh besar bangsa Indonesia, melainkan sepatu kets sederhana yang selalu menemani Nanik bergerak dari satu tempat ke tempat lain. “Sepatu kets untuk turun ke dapur. Sepatu kets untuk meninjau sekolah. Sepatu kets untuk memastikan bahwa program yang dirancang dengan baik benar-benar sampai kepada rakyat dengan baik,” ujar Dirgayuza.
Dirgayuza mengatakan, mungkin Nanik adalah salah satu dari sedikit orang di Republik ini yang pernah menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia di Istana Negara sambil mengenakan sepatu kets. Saat itu, Nanik sedang bekerja di Solo ketika mendadak mendapat panggilan ke Jakarta untuk menerima penghargaan di Istana. Protokol Istana menyebut Nanik harus sampai dalam waktu tiga jam, sehingga tidak banyak waktu untuk persiapan. Bahkan batik yang dipakai Nanik dibeli di bandara, dan ia tak sempat berganti sepatu kets yang dipakainya. Alhasil, Nanik memakai sepatu kets yang sama saat dipakai untuk sidak ke dapur MBG.
“Sepatu kets yang dipakai berjalan dari dapur ke dapur. Sepatu kets yang dipakai memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang bergizi, higienis, dan layak,” ujar Dirgayuza.
Di tengah ruangan megah Istana Negara, di bawah lampu kristal dan di hadapan para pejabat tinggi negara, sepatu kets itu tetap menempel di kakinya. Bagi Dirgayuza, di situlah letak keistimewaannya. “Karena kadang-kadang, tanda kehormatan terbesar bukanlah medali yang disematkan di dada. Melainkan jejak langkah yang tertinggal di lapangan,” ujarnya.
Saat Nanik Deyang diumumkan menjadi Kepala BGN pada Selasa malam, 2 Juni 2026, Dirgayuza kembali teringat sepatu kets itu. Sebuah pengingat bahwa jabatan boleh berubah, ruang kerja boleh berpindah, tetapi Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan hebat yang bersedia turun ke lapangan dan memastikan pekerjaan benar-benar selesai. “Dan jika suatu hari nanti Anda melihat Bu Nanik berjalan cepat dengan sepatu ketsnya, jangan heran. Karena besar kemungkinan beliau sedang melakukan apa yang selalu dilakukannya selama ini, bekerja, bekerja, dan bekerja untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat masa depan yang lebih baik,” pungkas Dirgayuza.
Artikel Terkait
Taylor Swift Konfirmasi Tulis Lagu Orisinal untuk ‘Toy Story 5’
Pemerintah Kota Surabaya Buka Posko SPMB di Seluruh SD dan SMP Negeri, Pastikan Tak Ada Anak Usia Sekolah Tak Tertampung
Iran dan AS Kembali Terlibat Baku Tembak di Selat Hormuz, IRGC Klaim Serang Armada Kelima di Bahrain
SpaceX Targetkan IPO Terbesar dalam Sejarah, Incar Dana Rp1.200 Triliun