Penjualan iPhone Cetak Rekor, Tapi Layanan dan China Gagal Penuhi Target

- Jumat, 31 Juli 2026 | 07:50 WIB
Penjualan iPhone Cetak Rekor, Tapi Layanan dan China Gagal Penuhi Target

Apple melaporkan penjualan iPhone tertinggi sepanjang sejarah untuk kuartal yang berakhir Juni, namun dua segmen penting lainnya layanan dan pasar China gagal memenuhi ekspektasi analis. Kinerja ini membuat saham perusahaan terbesar di dunia itu turun 3,9 persen dalam perdagangan setelah jam reguler, meskipun sebelumnya sempat melonjak 22,7 persen sejak awal tahun.

Dalam laporan keuangan kuartal ketiga fiskal 2026 yang dirilis Kamis (30/7/2026), Apple mencatat penjualan iPhone sebesar USD54,25 miliar, naik 21,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui perkiraan analis yang sebesar USD53,60 miliar. Ini adalah pertama kalinya sejak siklus peningkatan pasca-pandemi Apple mencatat tiga kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan penjualan iPhone di atas 20 persen.

Pencapaian tersebut terbilang istimewa karena kuartal ketiga biasanya merupakan masa transisi menjelang peluncuran model baru di musim gugur, ketika konsumen cenderung menunda pembelian. Riset Counterpoint pada Juni bahkan memperkirakan Apple akan meraih pangsa pasar tertinggi sepanjang masa di segmen smartphone, PC, tablet, dan smartwatch pada 2026.

Kendati demikian, ada dua titik lemah dalam laporan ini. Segmen layanan yang mencakup iCloud, Apple Music, dan komisi App Store hanya tumbuh 12,1 persen menjadi USD30,74 miliar, di bawah konsensus USD31,22 miliar. Pertumbuhan ini juga lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 16,3 persen.

Penjualan di China, yang merupakan pasar penting bagi Apple, juga meleset. Meskipun naik 22,4 persen menjadi USD18,86 miliar, angka tersebut masih di bawah perkiraan analis sebesar USD19,58 miliar. Data Counterpoint Research menunjukkan Apple sebenarnya mengungguli pasar smartphone China secara keseluruhan pada kuartal kedua 2026, namun tetap belum cukup untuk memenuhi target.

Secara keseluruhan, Apple membukukan laba USD2,02 per saham dengan pendapatan USD109,42 miliar, lebih tinggi dari perkiraan analis yang sebesar USD1,89 per saham dan pendapatan USD108,86 miliar. Hasil ini didukung oleh dampak positif pengembalian tarif.

CEO Tim Cook dalam pernyataannya menyebut ini sebagai kuartal Juni terbaik Apple. Namun, kepala investasi Pave Finance, Stephen Evans, menilai bahwa sekadar memenuhi ekspektasi tidak lagi cukup di pasar yang terbiasa dengan kejutan positif. "Pelemahan harga saham mencerminkan basis investor yang sudah terbiasa dengan laporan pendapatan luar biasa, di mana kuartal yang biasa-biasa saja dianggap seperti kegagalan," ujarnya kepada Investing.com, Jumat (31/6/2026).

Evans menambahkan bahwa dinamika ini tidak akan bertahan selamanya. "Seiring pertumbuhan pendapatan dan ekspektasi mulai normal, investor cenderung lebih menerima hasil yang solid. Ketika itu terjadi, fluktuasi harga saham yang tajam di sekitar pendapatan juga akan mulai mereda."

Di sisi lain, Apple masih menghadapi krisis pasokan chip memori yang mendorong kenaikan harga Mac dan iPad pada Juni. Pendapatan Mac naik 28,7 persen menjadi USD10,35 miliar, sementara pendapatan iPad justru turun 5,9 persen menjadi USD6,19 miliar.

Meskipun saham Apple sempat menyentuh kapitalisasi pasar USD5 triliun awal pekan ini, setelah laporan keuangan dirilis sahamnya turun 3,9 persen. Namun, sepanjang Juli saham masih mencatat kenaikan lebih dari 15 persen.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags