Seorang pemilik toko Muslim berusia 54 tahun, Driss Atouane, meninggal dunia setelah diserang secara brutal saat membela seorang wanita dari serangan rasis dan Islamofobia di Brussels, Belgia. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026, sekitar pukul 15.20 waktu setempat di atas Trem 55 di wilayah Evere.
Atouane menyaksikan seorang pria melontarkan hinaan bernada rasis dan Islamofobia kepada seorang penumpang wanita. Ia memutuskan untuk mengintervensi demi melindungi wanita tersebut dan mencoba menenangkan situasi. Namun, pelaku kemudian mengalihkan agresinya kepada Atouane. Berdasarkan keterangan saksi dan pihak keluarga, korban diserang dari belakang, dipukul, dan ditendang secara berulang kali dengan tingkat kekerasan yang sangat ekstrem.
Atouane dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan sempat mengalami koma. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat luka-lukanya pada Minggu pagi, 26 Juli 2026.
Latar Belakang Korban
Driss Atouane merupakan warga keturunan Maroko yang mengelola sebuah supermarket lokal di kawasan Place Liedts, distrik Schaerbeek. Ia dikenal luas dan sangat dihormati oleh komunitas lokal di lingkungan tempatnya bekerja.
Tindakan Hukum
Kantor Kejaksaan Publik Brussels mengonfirmasi bahwa kepolisian bertindak cepat dan berhasil menangkap tersangka dalam hitungan menit setelah kejadian di tempat perkara. Hakim investigasi telah mengeluarkan surat perintah penahanan dan memerintahkan evaluasi psikiatris terhadap tersangka. Penyelidikan masih berjalan guna menentukan dakwaan akhir dan memeriksa apakah motif kebencian (Islamofobia) dapat memperberat hukuman di bawah hukum Belgia.
Simpati Publik
Kasus kematian Driss Atouane memicu gelombang duka dan kemarahan di Belgia. Warga Schaerbeek menggelar penghormatan bagi korban, sementara tokoh masyarakat Muslim menyebut Atouane sebagai sosok yang kehilangan nyawanya karena membela sesama warga dari tindakan diskriminatif.
Kematian Driss Atouane kini menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme dan Islamofobia di Belgia. Banyak pihak menilai keberaniannya membela seorang perempuan Muslim yang menjadi sasaran penghinaan menunjukkan pentingnya solidaritas sosial dalam menghadapi tindakan diskriminatif yang masih terjadi di ruang publik Eropa.
Data dari berbagai lembaga pemantau di Eropa menunjukkan bahwa insiden Islamofobia dan kejahatan bermotif kebencian terhadap Muslim masih menjadi tantangan serius di sejumlah negara Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi hak asasi manusia dan lembaga Uni Eropa berulang kali memperingatkan meningkatnya ujaran kebencian dan kekerasan terhadap komunitas Muslim, terutama setelah meningkatnya polarisasi politik dan sentimen anti-imigran di beberapa negara.
Artikel Terkait
MOI Tolak Kunjungan PM India Narendra Modi ke Indonesia