El-Sayed: Islamofobia Adalah Taktik Lawan yang Tak Punya Program

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:00 WIB
El-Sayed: Islamofobia Adalah Taktik Lawan yang Tak Punya Program

Abdul El-Sayed, calon senator dari Partai Demokrat, menegaskan bahwa serangan Islamofobia yang kerap dialaminya hanyalah taktik lawan politik yang tidak memiliki program kerja. Dalam pernyataannya, ia menantang lawan-lawannya untuk berdebat soal kebijakan, bukan menyerang identitasnya.

"Itu satu-satunya taktik yang mereka punya. Mereka akan menunjuk ke arah saya, menunjuk nama saya, seolah berkata, 'Wah, dia berbeda.' Cuma itu kemampuan terbaik kalian? Kalian tidak bisa benar-benar bicara soal apa yang ingin kalian lakukan? Nama saya tidak membuat harga bensin kalian naik. Nama saya juga tidak menyeret kita ke dalam perang… ini adalah tempat terbaik di dunia untuk menjadi seorang Abdul," ujarnya.

El-Sayed, yang berprofesi sebagai dokter dan ahli kesehatan masyarakat, menilai serangan semacam itu justru menunjukkan kelemahan lawan. Ia menegaskan bahwa identitasnya tidak berdampak pada masalah ekonomi atau keamanan, seperti harga bensin atau perang. Baginya, serangan tersebut adalah upaya mengalihkan perhatian dari isu-isu riil yang dihadapi masyarakat.

Karier dan Tantangan

El-Sayed memiliki rekam jejak panjang di bidang kesehatan. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Kesehatan Detroit pada 2015–2017 dan Direktur Kesehatan Wayne County pada 2023–2025. Kini, ia maju sebagai kandidat Senat AS pada pemilu November 2026.

Sebagai politisi Muslim, ia kerap menghadapi kampanye hitam dan sentimen Islamofobia. Namun, alih-alih bersikap defensif, ia memilih membalikkan narasi dengan menantang lawan-lawannya untuk beradu argumen di ranah kebijakan publik, seperti layanan kesehatan dan ekonomi.

Pernyataan El-Sayed ini menjadi sorotan karena ia berhasil mengubah serangan personal menjadi ajakan diskusi yang lebih substantif. Ia menegaskan bahwa identitasnya bukanlah hal yang perlu diperdebatkan, melainkan justru menjadi kekuatan dalam keberagaman Amerika.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags