Rabu lalu, di kantor Kementerian Transmigrasi, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan visi yang cukup menarik. Kawasan transmigrasi, katanya, bakal disiapkan sebagai penopang ekonomi nasional yang baru. Basisnya? Ekspor Sumber Daya Alam.
Menurut AHY, potensinya nyata. China saja sudah menunjukkan minat serius pada durian dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Ini jadi pintu masuk yang bagus.
"Ada kawasan transmigrasi yang punya potensi pertanian dan perkebunan luar biasa," ujarnya.
"Bukan cuma untuk lokal, tapi bisa jadi komoditas ekspor unggulan. Lihat saja, ekspor durian dalam tiga bulan terakhir nilainya mencapai Rp400 miliar. Bayangkan, dalam setahun bisa tembus lebih dari Rp1 triliun ke China."
Poinnya jelas: transmigrasi sekarang bukan sekadar soal memindahkan orang. Program ini diarahkan untuk mendistribusikan nilai ekonomi. Sejak awal, Kementerian Transmigrasi memang fes pada revitalisasi kawasan. Tujuannya satu, membuat wilayah yang dihuni transmigran itu punya daya ekonomi yang kuat.
Namun begitu, semua itu mustahil tanpa pemberdayaan manusianya. AHY mengakui, pihaknya sudah banyak melakukan pelatihan. Para transmigran dididik agar bisa mandiri secara ekonomi, tentu dengan menggarap potensi yang ada di sekitar mereka.
"Kami ingin memastikan transmigrasi ini benar-benar berdampak positif," tegas AHY.
"Terutama untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi seluruh Indonesia."
Di sisi lain, tantangannya tidak kecil. Data dari riset internal kementerian menyebutkan, lebih dari 70% kawasan transmigrasi masih bermasalah dengan infrastruktur dasar. Jalan produksi buruk, irigasi tak optimal, belum lagi persoalan air bersih, listrik, dan fasilitas pascapanen yang minim.
Akibatnya bisa ditebak. Lebih dari 60% komoditas unggulan masih dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah ekonominya pun, sayangnya, dinikmati oleh pihak di luar kawasan transmigrasi.
Padahal, kalau dikelola dengan baik berdasarkan data, prospeknya sungguh menjanjikan. Kawasan ini berpotensi menarik investasi fantastis, sekitar Rp180 triliun hingga Rp240 triliun dalam empat tahun ke depan. Bahkan, nilai ekonominya bisa melonjak hingga ratusan triliun rupiah per tahun.
Jadi, mimpi besarnya ada. Tinggal eksekusi di lapangan yang akan membuktikan.
Artikel Terkait
PHK di AS Melonjak 97.000 pada Mei 2026, Sektor Teknologi dan AI Jadi Penyebab Utama
Marselino Ferdinan Terancam Absen Lawan Oman karena Cedera Hamstring
Marselino Ferdinan Terancam Absen Lawan Oman karena Cedera Hamstring, Herdman Tunggu Hasil Tes Kebugaran
Pemerintah Perkuat Koordinasi Lintas Lembaga Hadapi Tekanan Rupiah