Prabowo dan Gibran Hanyalah Sampah, Mewarisi Kebejatan Jokowi
Oleh: Sholihin MS
Pemerhati Sosial dan Politik
Jokowi sering disebut sebagai penghancur Indonesia. Nah, Gibran ini seperti penyempurna kehancuran itu. Lalu ada Dedi Mulyadi, yang menurut saya jadi pelestari penjajahan China. Lantas, bagaimana dengan Prabowo? Julukan paling pas barangkali: orang yang tak berkutik, membiarkan kehancuran demi sebuah kursi presiden.
Mirip pemain catur yang sudah kepepet. Mati langkah. Tinggal menunggu waktu untuk terkapar di tengah jabatannya.
Bayangkan jika Prabowo bertahan sampai 2029, lalu diteruskan oleh Gibran dan Dedy Mulyadi. Bisa dipastikan Indonesia akan berubah total. Bukan tidak mungkin negeri ini berubah wujud menjadi "Indo-China". Sungguh ironis.
Yang aneh, penjajahan ini justru dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Mereka adalah pengkhianat. Komandannya? Jokowi dan keluarganya. Dibantu oleh sederet nama seperti Luhut, Bahlil, Eric Tohir, Tito Karnavian, Zulhas, Airlangga Hartarto, Listyo Sigit, dan semua anteknya.
Negara dan rakyat dikorbankan. Semua demi ambisi dan keserakahan akan harta serta tahta. Mereka ini bukan cuma tak punya iman, tapi sudah bertindak sebagai algojo bagi rakyat Indonesia. Dalam negara yang benar-benar berdaulat, hukuman mati layak untuk mereka.
Artikel Terkait
Siham, Penyandang Autis Asperger, Sukses Pertahankan Skripsi tentang Perilaku Domba di UGM
Program Makan Bergizi: Saat Pendidikan Dijadikan Tumbal Popularitas
Dokter Anak Tangani Balita Kejang di Pesawat, Penerbangan Tetap Lanjut
Negara Hukum atau Negara Opini? Ancaman Tafsir Liar di Ruang Publik