Analis Politik: Prabowo-Gibran Dinilai Lanjutkan Warisan Buruk Jokowi

- Kamis, 18 Desember 2025 | 06:25 WIB
Analis Politik: Prabowo-Gibran Dinilai Lanjutkan Warisan Buruk Jokowi

Prabowo dan Gibran Hanyalah Sampah, Mewarisi Kebejatan Jokowi

Oleh: Sholihin MS
Pemerhati Sosial dan Politik

Jokowi sering disebut sebagai penghancur Indonesia. Nah, Gibran ini seperti penyempurna kehancuran itu. Lalu ada Dedi Mulyadi, yang menurut saya jadi pelestari penjajahan China. Lantas, bagaimana dengan Prabowo? Julukan paling pas barangkali: orang yang tak berkutik, membiarkan kehancuran demi sebuah kursi presiden.

Mirip pemain catur yang sudah kepepet. Mati langkah. Tinggal menunggu waktu untuk terkapar di tengah jabatannya.

Bayangkan jika Prabowo bertahan sampai 2029, lalu diteruskan oleh Gibran dan Dedy Mulyadi. Bisa dipastikan Indonesia akan berubah total. Bukan tidak mungkin negeri ini berubah wujud menjadi "Indo-China". Sungguh ironis.

Yang aneh, penjajahan ini justru dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Mereka adalah pengkhianat. Komandannya? Jokowi dan keluarganya. Dibantu oleh sederet nama seperti Luhut, Bahlil, Eric Tohir, Tito Karnavian, Zulhas, Airlangga Hartarto, Listyo Sigit, dan semua anteknya.

Negara dan rakyat dikorbankan. Semua demi ambisi dan keserakahan akan harta serta tahta. Mereka ini bukan cuma tak punya iman, tapi sudah bertindak sebagai algojo bagi rakyat Indonesia. Dalam negara yang benar-benar berdaulat, hukuman mati layak untuk mereka.

Kesalahan fatal Prabowo itu sederhana: meninggalkan rakyat dan memilih terus menempel pada Jokowi. Padahal, Jokowi sudah jelas-jelas jadi biang kerok dari segala kekacauan dan kehancuran ini.

Dengan sikapnya yang begitu, citra Prabowo pasti makin hancur berantakan. Bahkan, bisa saja dia tersandung di tengah jalan dan kursinya diambil alih Gibran. Kalau sampai terjadi, nah, itu dia Indonesia makin sempurna kehancurannya.

Jujur saja, daripada dipimpin Gibran, lebih baik presiden kita seekor monyet. Memang sama-sama tak berotak, tapi monyet itu hidupnya sederhana. Tidak serakah.

Andai Prabowo punya nyali, seharusnya dia berpihak pada rakyat. Berani menegakkan kebenaran dan keadilan. Itu saja.

Kalau masih ada rasa malu, mundur saja dari posisi presiden. Karena saat ini, Prabowo dan Gibran itu sama saja. Mereka mewarisi kedunguan, kebohongan, dan kebejatan. Membiarkan korupsi merajalela, mengabaikan hukum, serta membiarkan China mengendalikan Indonesia.

Pada akhirnya, mereka tak ubahnya sampah yang harus segera dibuang ke tongnya.

Bandung, 27 J. Akhir 1447

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler