Hizbullah Tolak Gencatan Senjata dengan Israel, Sebut Perjanjian Itu Bentuk Penyerahan Diri

- Jumat, 05 Juni 2026 | 07:15 WIB
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata dengan Israel, Sebut Perjanjian Itu Bentuk Penyerahan Diri

Hizbullah secara resmi menolak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon, hanya beberapa jam setelah perjanjian tersebut diumumkan. Kelompok bersenjata itu menilai bahwa kepatuhan terhadap kesepakatan sama artinya dengan menyerah kepada Israel.

“Mematuhi kesepakatan ini sama saja dengan menyerah kepada Israel,” demikian pernyataan Hizbullah sebagaimana dikutip dari The New York Times, Jumat, 5 Juni 2026. Penolakan ini muncul di tengah fakta bahwa kesepakatan tersebut hampir tidak membawa perubahan di lapangan. Israel terus membombardir Lebanon selatan dengan serangan udara, sementara Hizbullah masih melancarkan roket ke posisi pasukan Israel.

Pemerintah Lebanon sendiri memiliki kendali yang sangat terbatas terhadap Hizbullah. Kelompok itu merupakan kekuatan politik yang signifikan dalam masyarakat Lebanon dan sangat bergantung pada dukungan material dari Iran. Di sisi lain, Israel sebenarnya enggan menghentikan pertempuran, tetapi terus didorong oleh pemerintahan Trump untuk melakukannya.

Kesepakatan yang diumumkan pada Rabu lalu itu menuntut penghentian serangan sepihak oleh Hizbullah, namun tidak secara eksplisit mensyaratkan konsesi segera dari Israel, seperti penarikan pasukan dari Lebanon selatan. Kegagalan nyata dari perjanjian ini membuat kawasan kembali berada dalam situasi yang sama seperti 24 jam sebelumnya, ketika kekhawatiran meningkat bahwa pertempuran akan semakin intensif dan menggagalkan negosiasi yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara AS-Israel melawan Iran.

Iran bersikeras agar Lebanon dimasukkan dalam setiap perjanjian perdamaian, tetapi dengan syarat yang bertentangan dengan dorongan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melucuti senjata Hizbullah secara menyeluruh. Sementara itu, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyebut perjanjian gencatan senjata itu sebagai “ilusi” dan setara dengan “penyerahan diri, kekalahan, dan terwujudnya tujuan musuh.” Menurutnya, perjanjian itu menyerukan Hizbullah tidak hanya berhenti menembak, tetapi juga menarik diri dari Lebanon Selatan, sehingga pasukan Israel sepenuhnya mengendalikan wilayah tersebut.

Pasukan Israel telah menduduki sebagian besar Lebanon selatan sejak awal Maret, ketika Hizbullah mulai meluncurkan rudal ke Israel utara sebagai respons terhadap pemboman AS-Israel terhadap sekutunya, Iran. Netanyahu bahkan meningkatkan serangan terhadap Hizbullah dalam beberapa pekan terakhir, meskipun pembicaraan gencatan senjata sedang berlangsung. Qassem menegaskan bahwa setiap gencatan senjata harus mengakhiri serangan Israel dan mewajibkan militernya untuk menarik diri dari Lebanon.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar