Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda Amerika Serikat pada Mei 2026, dengan total sekitar 97 ribu karyawan harus kehilangan pekerjaan mereka. Angka ini mencatatkan lonjakan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 83 ribu orang pada April 2026, sebagaimana dilaporkan oleh perusahaan penempatan kerja global Challenger, Gray & Christmas.
Fenomena ini, menurut laporan yang dirilis pada Kamis (4/6/2026), masih didominasi oleh sektor teknologi. Untuk bulan ketiga berturut-turut, kecerdasan buatan (AI) menjadi alasan utama yang paling sering disebutkan oleh perusahaan di balik keputusan pengurangan tenaga kerja. Lebih dari 38 ribu PHK terjadi di sektor teknologi saja, menjadikannya angka bulanan tertinggi untuk industri tersebut sejak Maret 2023.
“AI sekarang menjadi alasan utama yang diberikan perusahaan untuk memangkas pekerjaan, dan industri utama yang menyebutkannya adalah teknologi,” ujar pakar ketenagakerjaan Andy Challenger dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, secara keseluruhan, gelombang PHK di AS tahun ini sebenarnya menunjukkan tren mereda. Data mencatat bahwa sekitar 400 ribu posisi terkena dampak PHK selama periode Januari hingga Mei 2026, atau hanya separuh dari jumlah yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, data resmi pemerintah juga mengindikasikan bahwa tingkat PHK secara keseluruhan tetap rendah, dan klaim tunjangan pengangguran masih berada di bawah level tahun sebelumnya.
Artikel Terkait
Gempa M 5,6 Guncang Tojo Una-Una, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Akuisisi KAI atas INKA Ditargetkan Rampung November 2026, Integrasi Operasional Efektif 2027
Pertumbuhan Ekonomi Bone Diprediksi Tembus 8 Persen, Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
Presiden Prabowo Berhentikan Wamen Imipas Silmy Karim Usai Jadi Tersangka Pemerasan