Yazukee: Kisah Runner Up Dunia yang Lahir dari Kamar Sederhana di Bone

- Kamis, 29 Januari 2026 | 19:30 WIB
Yazukee: Kisah Runner Up Dunia yang Lahir dari Kamar Sederhana di Bone
Yazukee: Dari Kamar di Bone ke Panggung Dunia

Yazukee: Dari Kamar di Bone ke Panggung Dunia

Lampu sorot, sorak penonton, dan layar raksasa yang memamerkan tulisan M7 World Championship 2026. Suasana Tennis Indoor Senayan benar-benar mencekam Minggu lalu. Di tengah euforia itu, ada satu nama yang terus disebut: Yazukee.

Bersama Alter Ego Esports, Yazukee berhasil menjadi Runner Up di ajang paling bergengsi itu. Sayang, grand final harus berakhir dengan kemenangan Aurora Philippines. Tapi pencapaiannya sudah luar biasa.

Di balik nama panggungnya yang keren, ada seorang pemuda biasa. Namanya Andi Muhammad Affan Wahyudi, usianya baru 21 tahun. Dia adalah putra dari seorang camat di Bone, Sulawesi Selatan. Dunianya dulu bukan arena turnamen mewah, melainkan kamar sederhana di daerahnya.

Perjalanannya dimulai tanpa fasilitas wah. Cuma modal ponsel dan koneksi internet yang kadang ngambek. Saat masih di SMA Negeri 1 Bone, Mobile Legends cuma jadi hiburan iseng selepas belajar. Mimpi jadi atlet dunia? Jauh dari pikiran.

Turnamen lokal jadi batu loncatan pertamanya. Hadiahnya seringkali cuma diamond game. Untuk beli skin karakter favorit, Affan harus menabung pelan-pelan. Tidak ada yang instan. Semua dihitung dengan matang.

Namun begitu, bakatnya tak bisa disembunyikan. Bergabung dengan UKM esports di kampus menjadi titik balik. Skillnya makin terasah, jam terbang bertambah. Tapi satu hal yang ia pegang teguh: pendidikan. Sementara banyak yang memilih fokus pada satu jalan, Affan mengambil keduanya.

Dia melanjutkan kuliah di Jurusan Agribisnis, Universitas Hasanuddin. Pilihan ini sendiri hasil dari diskusi panjang dengan orang tua, yang awalnya berharap dia masuk jalur medis. Agribisnis akhirnya jadi kompromi.

Di tengah anggapan bahwa atlet esports kerap abai dengan sekolah, Affan justru membuktikan sebaliknya. Dia adalah mahasiswa aktif sekaligus pemain pro.

Semester lima kuliahnya menjadi momen penting. Iseng mendaftar trial untuk tim profesional, eh malah diterima. Keputusan besar pun harus diambil. Diskusi dengan keluarga berlangsung alot hampir seminggu penuh. Masa depannya dipertaruhkan di sini.

Dunia profesional ternyata jauh lebih keras. Bukan cuma soal kecepatan jempol. Jadwal latihan padat, tekanan mental yang besar. Menurut Affan, banyak pemain berbakat yang akhirnya tumbang bukan karena skillnya kurang, tapi karena mentalnya tidak tahan.

“Yang tidak kuat mental biasanya cepat menyerah,”

katanya saat kami bertemu di rumahnya di Kompleks Catalya, Selasa lalu.

Didikan keras sejak kecil rupanya membentuk ketahanannya. Saat lelah melanda, dia ingat semua pengorbanan: waktu, kuliah, jarak dari keluarga. Di Alter Ego, dia merasa menemukan rumah kedua. Lingkungannya sehat, saling mendukung. Stres tidak dibiarkan dipikul sendirian.

Fakta menariknya, di M7 World Championship kemarin, cuma ada dua pemain asal Sulsel. Itu membuat pencapaian Affan terasa lebih spesial. Dari daerah yang belum jadi lumbung atlet esports, dia membuktikan bahwa talenta bisa datang dari mana saja.

Ke depannya, Affan belum mau berpuas diri. Dia ingin bertahan dan terus berkembang di MPL. Soal kuliah, dia masih berusaha menyeimbangkan.

“Kalau masih bisa di-balance, saya ingin lanjut dua-duanya,”

ujar pemain yang juga hobi bulu tangkis ini.

Baginya, esports bukan jalan buntu. Masih banyak pintu yang bisa dibuka: tetap sebagai pemain, menjadi pelatih, atau bahkan kreator konten. Perjalanan Yazukee, tampaknya, baru saja dimulai.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar