Dunia profesional ternyata jauh lebih keras. Bukan cuma soal kecepatan jempol. Jadwal latihan padat, tekanan mental yang besar. Menurut Affan, banyak pemain berbakat yang akhirnya tumbang bukan karena skillnya kurang, tapi karena mentalnya tidak tahan.
“Yang tidak kuat mental biasanya cepat menyerah,”
katanya saat kami bertemu di rumahnya di Kompleks Catalya, Selasa lalu.
Didikan keras sejak kecil rupanya membentuk ketahanannya. Saat lelah melanda, dia ingat semua pengorbanan: waktu, kuliah, jarak dari keluarga. Di Alter Ego, dia merasa menemukan rumah kedua. Lingkungannya sehat, saling mendukung. Stres tidak dibiarkan dipikul sendirian.
Fakta menariknya, di M7 World Championship kemarin, cuma ada dua pemain asal Sulsel. Itu membuat pencapaian Affan terasa lebih spesial. Dari daerah yang belum jadi lumbung atlet esports, dia membuktikan bahwa talenta bisa datang dari mana saja.
Ke depannya, Affan belum mau berpuas diri. Dia ingin bertahan dan terus berkembang di MPL. Soal kuliah, dia masih berusaha menyeimbangkan.
“Kalau masih bisa di-balance, saya ingin lanjut dua-duanya,”
ujar pemain yang juga hobi bulu tangkis ini.
Baginya, esports bukan jalan buntu. Masih banyak pintu yang bisa dibuka: tetap sebagai pemain, menjadi pelatih, atau bahkan kreator konten. Perjalanan Yazukee, tampaknya, baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Manchester City Hadapi Misi Mustahil Balikkan Keunggulan Real Madrid di Etihad
Hristiyan Petrov, Bek Penyebab Cedera Jonathans, Masuk Skuad Bulgaria untuk FIFA Series di Jakarta
PBSI Batalkan Keikutsertaan Thalita di Orleans Masters 2026 Demi Keamanan
Bagnaia Buka Peluang Tinggalkan Ducati Usai Musim Penuh Kesulitan