Yazukee: Kisah Runner Up Dunia yang Lahir dari Kamar Sederhana di Bone

- Kamis, 29 Januari 2026 | 19:30 WIB
Yazukee: Kisah Runner Up Dunia yang Lahir dari Kamar Sederhana di Bone

Dunia profesional ternyata jauh lebih keras. Bukan cuma soal kecepatan jempol. Jadwal latihan padat, tekanan mental yang besar. Menurut Affan, banyak pemain berbakat yang akhirnya tumbang bukan karena skillnya kurang, tapi karena mentalnya tidak tahan.

“Yang tidak kuat mental biasanya cepat menyerah,”

katanya saat kami bertemu di rumahnya di Kompleks Catalya, Selasa lalu.

Didikan keras sejak kecil rupanya membentuk ketahanannya. Saat lelah melanda, dia ingat semua pengorbanan: waktu, kuliah, jarak dari keluarga. Di Alter Ego, dia merasa menemukan rumah kedua. Lingkungannya sehat, saling mendukung. Stres tidak dibiarkan dipikul sendirian.

Fakta menariknya, di M7 World Championship kemarin, cuma ada dua pemain asal Sulsel. Itu membuat pencapaian Affan terasa lebih spesial. Dari daerah yang belum jadi lumbung atlet esports, dia membuktikan bahwa talenta bisa datang dari mana saja.

Ke depannya, Affan belum mau berpuas diri. Dia ingin bertahan dan terus berkembang di MPL. Soal kuliah, dia masih berusaha menyeimbangkan.

“Kalau masih bisa di-balance, saya ingin lanjut dua-duanya,”

ujar pemain yang juga hobi bulu tangkis ini.

Baginya, esports bukan jalan buntu. Masih banyak pintu yang bisa dibuka: tetap sebagai pemain, menjadi pelatih, atau bahkan kreator konten. Perjalanan Yazukee, tampaknya, baru saja dimulai.


Halaman:

Komentar