Raja Juli Antoni dan Ujian Nyata di Balik Lambang Gajah PSI

- Minggu, 07 Desember 2025 | 06:25 WIB
Raja Juli Antoni dan Ujian Nyata di Balik Lambang Gajah PSI

Oleh: Rusdianto Samawa

Tugas Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memang berat. Ia harus menata hutan. Dan kalau gagal, lambang partainya sendiri gajah PSI bisa jadi harus diganti. Ironis, kan? Gajah justru mati di habitat aslinya, di rumahnya sendiri. Itu terjadi karena sang menteri tak paham rumah si gajah. Kalau begini terus, PSI bisa mati langkah menjelang 2029, bahkan setelahnya.

Nah, Bung Raja, supaya gajah dan seluruh penghuni hutan tak terus jadi korban, butuh langkah berani. Cabut saja semua izin konsesi lahan yang selama ini dirampok dan dibakar oleh oligarki rakus itu. Mereka korup, pencuri, dan jahat.

Anda pasti paham heroisme Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah itu. Dulu di masjid keraton, ia berani melakukan revolusi mental. Membimbing umat keluar dari kesalahan spiritual, mengubah arah kiblat shalat dari timur kembali ke barat. Itu contoh nyata.

Kalau Bung Raja bisa menafsirkan perintah Presiden Prabowo dan mengamalkan semangat Ahmad Dahlan, gajah di rumahnya takkan mati. Momentum ini bisa mengukir heroisme Anda sebagai kaum muda pemberani.

Lambang PSI sebenarnya sudah mewakili spirit keberanian untuk Anda. Tapi, kalau spirit itu mati sebelum gajah lestari, ya habis. Setiap gajah yang mati di kawasan hutan oligarki akan jadi akibat langsung dari kebijakan Anda yang dianggap tidak pro lingkungan dan tidak pro rakyat kecil.

Dan ini bukan kebetulan. Pembina PSI sendiri dikenal sebagai peternak oligarki hutan, dapat konsesi lahan lewat Proyek Strategis Nasional.

Pertanyaannya sekarang, apakah keberanian Raja Juli Antoni akan tegak lurus mendukung Presiden Prabowo? Menyongsong hutan untuk kemanusiaan dengan spirit Ahmad Dahlan? Atau justru tunduk dan tekuk lutut pada sang peternak oligarki yang rakus itu?

Sangat penting bagi Anda untuk bersikap tegas. Coba lepaskan baju PSI sebentar, ganti dengan baju Ahmad Dahlan. Nilai keberaniannya untuk mengubah haluan bisa jadi peta jalan baru bagi kehutanan Indonesia, seperti dakwah Muhammadiyah.

Ambil langkah cepat, Bung. Ingat filosofi "gajah mati". Itu bicara soal perilaku manusia, tentang warisan yang ditinggalkan setelah mati. Gajah tinggalkan gading, harimau tinggalkan belang, manusia tinggalkan nama. Reputasi dan jasa. Itu yang akan dikenang.

Anda harus jadi antitesis dari peternak oligarki. Cegah musibah di masa depan. Refleksikan tanggung jawab sebagai khalifatullah fil ardi, yang harus tinggalkan dampak baik bagi dunia, salah satunya dengan menjaga lingkungan.

Makna peribahasa itu dalam. Setiap makhluk dikenang dari sesuatu yang berharga. Manusia dari amal baiknya.

Sekarang, Anda jadi pusat perhatian. Ingat juga makna lain: "Gajah Mati karena gadingnya". Seringkali kelebihan justru jadi sumber malapetaka. Itu terjadi kalau kiblatnya tidak lurus.

Solusinya? Keluarlah dari sandera warisan peternak oligarki. Ambil kebijakan yang baik, tinggalkan nilai positif, agar hutan tetap bermanfaat untuk generasi mendatang.

Dengan kearifan, Anda bisa menyelamatkan "Gajah Sebelum Mati". Gajah itu simbol kekuatan dan ketenangan. Ia mengajarkan kita untuk bergerak bersama, tidak gegabah, tidak serakah, setia pada rakyat dan alam. Jadilah simbol kekuatan sejati seperti itu.

Dalam konteks modern, kematian gajah adalah pengingat keras tentang nasib makhluk liar akibat perburuan dan kerusakan habitat. Karena itu, sikap Anda untuk membatalkan izin konsesi lahan industri ekstraktif itu penting sekali.

Ada pelajaran mengharukan dari gajah. Konon, ia menjauh untuk mati sendirian. Sikap rendah hati dan penuh kasih, agar tidak menyusahkan kawanannya. Ini mengajarkan kita tentang martabat dan kepedulian.

Pada akhirnya, "filsafat gajah mati" adalah ajakan untuk merenung. Tentang makna hidup, warisan, juga dampak dari kelebihan dan kekurangan diri kita, baik secara pribadi maupun sosial.

Keputusan ada di tangan Anda. Di goresan bolpoin yang akan membatalkan izin konsesi lahan industri perusak itu. Apalagi yang menguasainya adalah oligarki pengkhianat. Kalau PSI ingin selamat dari cibiran rakyat, ya silakan bertindak.

Aktif di Forum Partisipasi Lingkungan Pesisir, Ketua Front Nelayan Indonesia (FNI)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler