Pemerintah Klaim Fondasi Ekonomi Kuat Hadapi Gejolak Timur Tengah

- Selasa, 17 Maret 2026 | 08:00 WIB
Pemerintah Klaim Fondasi Ekonomi Kuat Hadapi Gejolak Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih terus memanas. Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih berhadapan, dan gelombang kejutnya terasa hingga ke seluruh dunia. Nah, bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah kita mengaku tetap waspada, tapi sekaligus percaya diri.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bicara blak-blan. Menurutnya, fundamental ekonomi kita masih kokoh. "Walau situasi perang itu sudah berjalan lebih dari dua minggu," ujarnya dalam sebuah diskusi dengan wartawan ekonomi di Jakarta, Senin (16/03/2026).

"Kalau kita lihat transmisinya ke Indonesia, ya lewat harga minyak, harga gas, dan komoditas lain. Tapi, walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid," tegas Airlangga.

Optimisme itu punya dasar. Coba lihat angka-angkanya. Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB masih dominan, di kisaran 54 persen. Indikator pengeluaran masyarakat juga sehat. Cadangan devisa kita pun masih tebal, sekitar USD151,9 miliar. Angka itu cukup untuk membiayai impor negara selama kurang lebih setengah tahun. Sektor manufaktur juga cerah, masih di zona ekspansif.

Di sisi lain, ada kabar baik dari sawah. Produksi beras nasional melonjak lebih dari 13 persen dibanding tahun lalu. Ini tentu jadi penyeimbang di tengah gejolak harga pangan global.

Yang menarik, Indonesia punya semacam "penangkal" alami. Kenaikan harga komoditas ekspor andalan kita seperti batu bara, nikel, dan tembaga yang nilainya mencapai USD47 miliar, mampu menutupi defisit di sektor minyak dan gas. Jadi, ada mekanisme natural hedging yang bekerja.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar