MAKASSAR Bursa transfer putaran kedua Super League 2025/2026 ternyata bukan cuma soal kedatangan pemain baru buat PSM Makassar. Lebih dari itu, momen ini jadi ajang evaluasi yang keras, bahkan terasa seperti penghakiman, bagi mereka yang sebelumnya dianggap sebagai pilar utama tim.
Ambil contoh kabar soal Dusan Lagator. Bek asal Montenegro ini konon sudah sepakat dengan PSM. Dengan nilai pasar nyaris Rp 8 miliar, dia langsung jadi pemain termahal Pasukan Ramang, menggeser posisi kapten Yuran Fernandes. Angka itu bukan cuma deretan digit. Itu sinyal keras. Pertanda bahwa PSM sedang merencanakan perubahan besar-besaran di lini pertahanan sektor yang justru jadi biang kerok musim ini.
Semuanya berawal dari kekalahan memalukan dari Persijap Jepara, Sabtu lalu. Dua gol yang kebobolan itu lahir dari kesalahan-kesalahan mendasar di belakang. Dan yang paling mencolok, kesalahan itu dilakukan oleh sang kapten sendiri, Yuran Fernandes.
Dia terlihat lambat, pasif, dan gagal melakukan hal-hal dasar yang seharusnya dikuasai bek berpengalaman. Sekali, dua kali, polanya berulang. Sebagai komando terakhir, Yuran malah jadi titik awal bencana. Kritik pedas yang datang setelahnya bukanlah hal yang mengada-ada. Itu konsekuensi yang wajar.
Di sisi lain, gelar kapten seharusnya jadi beban tanggung jawab, bukan tameng. Standarnya harus lebih tinggi. Sayangnya, musim ini Yuran gagal memenuhinya. Lima kekalahan beruntun PSM punya benang merah yang jelas: pertahanan kacau dan minim kepemimpinan.
Tagar YURANOUT yang membanjiri media sosial mungkin terkesan kasar. Tapi itu cermin kekecewaan fans yang sudah muak melihat kapten mereka justru jadi sumber masalah.
Artikel Terkait
Gagal Rekrut Kastaneer, PSM Harus Cari Striker Asing Lagi
Persebaya Tak Kapok, Rumor Craig Goodwin Kembali Menghangat
Krisis Lini Tengah Persija: Ricky Kambuaya Beri Kode ke Kemayoran?
Maarten Paes Pilih Ajax, Peluang Sejarah Liga Champions Terbuka