Jakarta diguncang aksi kekerasan yang menimpa seorang aktivis. Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menjadi korban penyiraman air keras oleh orang yang belum diketahui identitasnya.
Menurut kabar dari Polda Metro Jaya, dugaan sementara pelakunya berjumlah dua orang. Namun begitu, ini masih informasi awal. Polisi masih mendalami motif dan identitas pelaku dengan lebih teliti.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah pemulihan kondisi korban. "Kami sekarang mengedepankan pemulihan dahulu kepada korban," ujar Budi di Jakarta, Jumat (13/3).
Alasannya jelas. Kondisi Andrie Yunus belum memungkinkan untuk memberikan keterangan lengkap. Serangan itu menyebabkan luka yang cukup serius.
"Karena pada saat penyiraman ada pengelupasan di bagian tangan, badan, maupun wajah," ungkap Budi, menjelaskan parahnya cedera yang diderita aktivis itu.
Di sisi lain, penyelidikan tetap berjalan. Polisi telah memulai dengan mengambil keterangan sejumlah saksi, mengolah barang bukti, dan melakukan olah TKP. Budi juga berharap ada partisipasi publik. Ia mengimbau masyarakat atau rekan korban untuk menyampaikan informasi apa pun, sekecil apa pun, yang dianggap bisa membantu.
"Polda Metro Jaya termasuk Ditreskrimum pasti juga akan bersama-sama dengan Polres Metro Jakarta Pusat akan mengungkapkan perkara ini," tegasnya.
Respons keras datang dari organisasi tempat Andrie bernaung. KontraS mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa kompromi. Mereka menilai serangan ini bukan sekadar kriminal biasa.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyatakan serangan tersebut merupakan bentuk kekerasan serius yang ditujukan kepada pembela HAM. Menurutnya, ini adalah upaya sistematis untuk membungkam suara-suara kritis.
“Peristiwa ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya pembela HAM,” kata Dimas dalam pernyataan tertulisnya.
Dia menjelaskan lebih rinci, Andrie diserang oleh orang tak dikenal. Air keras yang disiramkan menyebabkan luka di tangan dan kaki, serta mengganggu penglihatannya. Sebuah serangan yang meninggalkan luka fisik sekaligus trauma.
Kasus ini pun langsung menyedot perhatian. Banyak yang membandingkannya dengan praktik-praktik intimidasi masa lalu, menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa dalang di baliknya dan apa motif sebenarnya. Polisi kini punya pekerjaan rumah yang berat.
Artikel Terkait
Panglima TNI Tegaskan Komitmen Perkuat Pertahanan Siber Lewat Kolaborasi dengan BSSN
Penumpang KA Argo Bromo Anggrek Terpental ke Rak Bagasi Usai Tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Alami Patah Tulang
Ukraina Tuding Israel Terima Gandum Curian Rusia, Israel Bantah dan Minta Bukti Resmi
Trump Sambut Raja Charles III di Gedung Putih, Sebut Inggris ‘Teman Paling Dekat’ AS