Gaya hidup konsumerisme yang serba berlebihan memang sedang jadi tren. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, konsep hidup sederhana justru kembali mencuat dan ramai diperbincangkan. Menurut M. Quraish Shihab, pendiri Pusat Studi Al-Qur'an, hidup sederhana itu bukan soal miskin atau kekurangan. Bukan. Ini lebih ke seni mengendalikan diri dan bersyukur atas apa yang sudah cukup.
Secara mendasar, kebutuhan kita itu bertingkat-tingkat. Ada yang primer, pokok banget: sandang, pangan, papan. Lalu ada kebutuhan sekunder, yang sifatnya pelengkap dan nggak harus dipenuhi segera.
Islam sendiri punya pandangan yang jelas soal ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, kira-kira begini: barang siapa yang merasa aman di rumahnya, badannya sehat, dan punya cukup rezeki untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah memiliki seluruh dunia. Luar biasa, bukan? Kriteria kebahagiaan yang tampaknya sederhana, tapi dalamnya luar biasa.
Namun begitu, realitanya nggak semudah itu. Nafsu kerap menggoda, mendorong kita untuk terus mengejar lebih dan lebih lagi tanpa henti. Keinginan yang tak terkendali inilah yang akhirnya menjauhkan kita dari rasa cukup. Dari rasa damai.
Artikel Terkait
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Pekan Depan
Chelsea Tumbang di Stamford Bridge, Newcastle Amankan Tiga Poin
Polisi Fasilitasi Balap Lari Dini Hari di Stadion Pakansari untuk Wadahi Energi Anak Muda Ramadan
Forum Lingkungan Bahas Solusi Teknis Kurangi Uap Beracun di SPBU