M. Quraish Shihab: Hidup Sederhana adalah Seni Mengendalikan Diri dan Bersyukur

- Minggu, 15 Maret 2026 | 02:45 WIB
M. Quraish Shihab: Hidup Sederhana adalah Seni Mengendalikan Diri dan Bersyukur

Gaya hidup konsumerisme yang serba berlebihan memang sedang jadi tren. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, konsep hidup sederhana justru kembali mencuat dan ramai diperbincangkan. Menurut M. Quraish Shihab, pendiri Pusat Studi Al-Qur'an, hidup sederhana itu bukan soal miskin atau kekurangan. Bukan. Ini lebih ke seni mengendalikan diri dan bersyukur atas apa yang sudah cukup.

Secara mendasar, kebutuhan kita itu bertingkat-tingkat. Ada yang primer, pokok banget: sandang, pangan, papan. Lalu ada kebutuhan sekunder, yang sifatnya pelengkap dan nggak harus dipenuhi segera.

Islam sendiri punya pandangan yang jelas soal ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, kira-kira begini: barang siapa yang merasa aman di rumahnya, badannya sehat, dan punya cukup rezeki untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah memiliki seluruh dunia. Luar biasa, bukan? Kriteria kebahagiaan yang tampaknya sederhana, tapi dalamnya luar biasa.

Namun begitu, realitanya nggak semudah itu. Nafsu kerap menggoda, mendorong kita untuk terus mengejar lebih dan lebih lagi tanpa henti. Keinginan yang tak terkendali inilah yang akhirnya menjauhkan kita dari rasa cukup. Dari rasa damai.

Di sisi lain, rezeki dari Allah SWT itu sejatinya bukan cuma untuk kita habiskan sendiri. Ada tanggung jawab moral di sana. Kita yang mampu, baik secara materi maupun tenaga, punya kewajiban untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Dan menariknya, membantu orang lain dengan tulus itu efeknya seringkali luar biasa bagi jiwa. Kebahagiaan yang muncul dari menolong sesama rasanya berbeda, lebih dalam dan tulus, dibanding kebahagiaan semu dari membeli barang mewah yang kesekian.

Jadi, intinya mungkin begini: dengan belajar mengendalikan nafsu dan fokus pada hal yang benar-benar penting, kita bisa meraih kehidupan yang lebih tenang. Hidup yang tidak hanya aman dan sehat, tapi juga bahagia bersama keluarga dan lingkungan sekitar. Itu semua berawal dari rasa cukup.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar