Ganda Taiwan dan Ritual Sungkem untuk The Daddies Bulutangkis

- Selasa, 27 Januari 2026 | 05:15 WIB
Ganda Taiwan dan Ritual Sungkem untuk The Daddies Bulutangkis

Kalau bicara soal rasa hormat di bulu tangkis dunia, ada satu momen yang selalu menarik perhatian. Itu adalah sikap ganda putra Taiwan, Lu Ching-yao dan Yang Po-han, terhadap legenda Indonesia, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan. Mereka tak segan menunduk dan mencium tangan. Sungguh sebuah penghormatan yang jarang terlihat di lapangan berlevel internasional.

Ya, Ahsan dan Hendra memang bukan pemain biasa. Rekam jejak mereka berbicara sendiri. Julukan "The Daddies" bukan sekadar panggilan, tapi pengakuan atas kiprah dan kewibawaan mereka. Tak cuma di Indonesia, tapi juga di mata para pemain dari seluruh dunia.

Nah, Lu dan Yang ini contoh nyatanya. Mereka termasuk yang paling jelas menunjukkan rasa segan itu.

Setiap kali pertandingan usai, entah menang atau kalah, kedua pemain Taiwan itu kerap mendatangi Ahsan/Hendra. Mereka lalu mencium tangan kedua seniornya. Gestur itu terasa sangat personal, seperti seorang anak kepada ayahnya. Menurut sejumlah saksi, aura hormatnya benar-benar terasa.

Momen "sungkem" ini sudah terjadi berkali-kali.

Pertama kali ramai dibicarakan usai French Open 2021. Lalu, di Malaysia Masters tahun berikutnya, mereka mengulangi hal serupa meski baru saja kalah. Yang menarik, di Denmark Open 2022, saat giliran mereka yang menang atas The Daddies, sikap hormat itu tak luntur. Mereka tetap mendatangi dan mencium tangan Hendra dan Ahsan.

French Open 2023 pun tak berbeda. Ritual itu kembali terekam kamera. Sepertinya, bagi Lu dan Yang, ini sudah jadi bagian dari etika pertandingan ketika berhadapan dengan dua legenda tersebut.

Di sisi lain, sikap Ahsan dan Hendra sendiri yang mungkin jadi pemicunya. Di dalam lapangan, mereka adalah kompetitor tangguh dengan segudang prestasi. Di luar lapangan, mereka dikenal rendah hati dan bersahaja. Kombinasi itulah yang rupanya menumbuhkan respek mendalam, tidak hanya dari penonton, tapi juga dari sesama pemain muda yang mengidolakan mereka.

Jadi, kisah Lu Ching-yao dan Yang Po-han ini lebih dari sekadar momen. Ini tentang tradisi dan penghargaan antar-generasi di dunia olahraga. Gestur sederhana mereka layak diacungi jempol, menunjukkan bahwa di tenging kerasnya persaingan, sportivitas dan rasa hormat tetap punya tempat yang istimewa.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler