Sekretaris Kabinet Buka Suara soal Kenaikan Harga Pertamax: Konsekuensi Harga Minyak Dunia

- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:40 WIB
Sekretaris Kabinet Buka Suara soal Kenaikan Harga Pertamax: Konsekuensi Harga Minyak Dunia

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, akhirnya angkat bicara mengenai keputusan Pertamina menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, yang mulai berlaku pekan ini. Menurutnya, langkah tersebut merupakan konsekuensi logis dari fluktuasi harga minyak mentah di pasar global yang terus merangkak naik.

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, artinya harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia,” ujar Teddy dalam keterangan resmi yang diunggah melalui akun media sosialnya, Jumat (12/6/2026). Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk menahan harga BBM nonsubsidi dalam jangka panjang karena skema penetapan harganya memang mengacu pada mekanisme pasar.

Teddy menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia sebenarnya sudah terjadi sejak Maret lalu. Namun, pemerintah berupaya menahan laju kenaikan harga BBM nonsubsidi selama beberapa bulan terakhir sebagai bentuk perlindungan sementara terhadap daya beli masyarakat.

“Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” ungkapnya.

Di tengah kenaikan ini, Teddy membandingkan harga Pertamax di Indonesia dengan harga BBM setara RON 92 dan 95 di negara-negara tetangga. Ia menyebut bahwa meskipun terjadi penyesuaian, harga BBM nonsubsidi di dalam negeri masih tergolong lebih rendah. Data yang ia kutip dari sejumlah lembaga pemantau harga energi global per 11 Juni 2026 menunjukkan bahwa harga Pertamax di Indonesia berada di angka Rp16.260 per liter. Angka ini jauh di bawah Filipina yang mencapai Rp22.158, Thailand Rp28.910, Myanmar Rp25.085, Laos Rp31.945, dan Singapura yang menjadi yang tertinggi dengan Rp42.971 per liter.

“Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain,” kata Teddy.

Sementara itu, ia memastikan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan. Pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter. Kebijakan ini, menurut Teddy, merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk terus melindungi masyarakat kecil dari dampak langsung gejolak harga energi global.

“Pertalite dan Solar, harga BBM subsidi tidak naik,” tegasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar