Ekonomi AS Melambat ke 1,5%, Warga Justru Makin Boros Belanja

- Kamis, 30 Juli 2026 | 23:15 WIB
Ekonomi AS Melambat ke 1,5%, Warga Justru Makin Boros Belanja

Ekonomi Amerika Serikat secara mengejutkan melambat pada kuartal kedua tahun 2026. Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto hanya tumbuh 1,5% secara tahunan pada periode April hingga Juni, jauh di bawah prediksi analis yang memperkirakan pertumbuhan tetap di level 2%. Capaian ini turun dari kuartal pertama yang mencatat pertumbuhan 2,1%, di tengah tekanan perang dengan Iran dan guncangan tarif impor.

Meski ekonomi melambat akibat penurunan belanja pemerintah, investasi, dan ekspor, konsumsi rumah tangga yang menopang lebih dari dua pertiga perekonomian AS justru menunjukkan daya tahan luar biasa. Pengeluaran konsumen melonjak ke 3,2% pada kuartal terakhir, naik drastis dari 0,5% di awal tahun. Inflasi harga konsumen mencapai 3,5% hingga Juni, namun masyarakat tetap agresif berbelanja barang otomotif, furnitur, dan obat-obatan resep.

"Data pertumbuhan ini sejatinya mengecilkan kekuatan asli perekonomian AS. Rumah tangga Amerika terbukti mampu mengabaikan tekanan anggaran akibat melambungnya harga bahan bakar," ujar Bradley Saunders, Ekonom Kuzut Amerika dari Capital Economics.

Eskalasi konflik militer di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah Brent bertengger di kisaran USD90 per barel, mendongkrak harga bensin di SPBU AS kembali melewati USD4 per galon. Di tengah melesatnya Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebesar 3,7% ukuran inflasi favorit Federal Reserve Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan tidak ada "tongkat sihir" untuk memangkas kenaikan harga secara instan. Bank sentral pun menahan suku bunga acuan lima kali berturut-turut.

Kendati pertumbuhan menipis, para ekonom melihat titik terang dari sektor riil dan teknologi. Michael Pearce, Chief US Economist di Oxford Economics, memproyeksikan pertumbuhan AS akan kembali melonjak di atas 2% pada akhir tahun. Meskipun impor microchip AI yang tinggi membuat kontribusi bersihnya terhadap PDB tampak moderat, demam investasi berbasis AI tetap menjadi motor penggerak terbesar perekonomian Amerika saat ini, disusul oleh mulai bangkitnya investasi pada industri non-teknologi.

Pertanyaan besarnya: apakah ketahanan konsumsi warga Amerika ini mampu bertahan di tengah ancaman kenaikan harga energi akibat perang, ataukah AS berada di ambang resesi tersembunyi?

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags