Inflasi Pabrik China Melandai, Tekanan Harga Mulai Mereda

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:54 WIB
Inflasi Pabrik China Melandai, Tekanan Harga Mulai Mereda

Untuk pertama kalinya sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, inflasi di tingkat pabrik China melandai. Harga konsumen juga mengalami perlambatan, menjadi tanda bahwa tekanan biaya akibat lonjakan harga minyak mulai mereda.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Minggu, indeks harga produsen (PPI) naik 3,5 persen pada Juli secara tahunan. Angka ini lebih rendah dari perkiraan maupun kenaikan 4,1 persen pada Juni.

Perlambatan tersebut menjadi yang pertama sejak PPI China berbalik positif pada Maret akibat kenaikan harga minyak. Sebelumnya, PPI China mengalami penurunan selama lebih dari tiga tahun.

Sementara itu, inflasi konsumen melambat menjadi 0,5 persen pada Juli dari 1 persen pada Juni. Indeks harga konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang bergejolak, juga turun menjadi 0,9 persen dari 1 persen.

China memang telah keluar dari periode deflasi terburuk dalam sejarahnya. Namun, momentum kenaikan harga masih lemah. Lesunya belanja konsumen domestik membuat pabrik kesulitan meneruskan kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga global minyak, chip, dan logam kepada konsumen.

Kondisi tersebut menciptakan perbedaan tren keuntungan antara sektor hulu dan hilir. Industri seperti manufaktur pakaian mengalami penurunan laba yang tajam, sementara produsen energi justru mencatat lonjakan keuntungan.

Dampak kenaikan harga komoditas global terhadap ekonomi China juga mulai mereda. Meski harga minyak mentah bergerak sangat fluktuatif pada Juni dan Juli, rata-rata biayanya masih lebih rendah dibandingkan level puncaknya pada awal tahun.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pekan ini bahwa negosiasi antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz terus berjalan. Teheran juga menyebut pihaknya sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute transit maritim baru di selat tersebut.

Namun, Iran kembali mengajukan sejumlah tuntutan yang harus disepakati AS sebelum jalur perairan itu dibuka.

Sejumlah ekonom dalam beberapa tahun terakhir telah memperingatkan bahwa tekanan deflasi berkepanjangan di China dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat mendorong rumah tangga mengurangi belanja, menekan keuntungan perusahaan, serta menghambat investasi dan perekrutan tenaga kerja.

Perlambatan indikator harga utama kembali berpotensi memicu kekhawatiran tersebut. Kondisi ini menjadi bukti tambahan bahwa pemulihan inflasi yang sehat setelah guncangan harga minyak masih membutuhkan waktu panjang.

Di sisi lain, harga daging babi, salah satu bahan pangan utama China, mengalami penyempitan penurunan secara tahunan. Hal ini menjadi tanda bahwa kelebihan pasokan di industri peternakan babi mulai mereda setelah mengalami kontraksi selama setahun terakhir.

Biaya layanan pariwisata juga menurun. Belanja domestik di sektor tersebut selama periode liburan musim panas lebih lemah dari perkiraan, menurut laporan media lokal. Penurunan tersebut tercermin dari tarif hotel dan harga tiket pesawat yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags