Bagi Mina, seorang ibu rumah tangga di Iran, perang tidak lagi diukur dari serangan udara atau pernyataan militer. Perang kini terasa dari apa yang sudah tidak ada lagi di meja makan keluarganya.
"Sejak perang dimulai tahun lalu, kami semakin miskin setiap hari," ujarnya kepada DW. "Sejujurnya, saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali membeli daging merah. Kami menggantinya dengan ayam, tetapi sekarang ayam pun sudah menjadi barang mewah. Kami tidak lagi memikirkan bagaimana cara menabung. Yang kami pikirkan hanya bagaimana membayar sewa dan membeli makanan."
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Iran akan mengalami kontraksi sebesar 5,4% tahun ini, sementara inflasi diperkirakan mendekati 69%. Bank Dunia juga memperingatkan bahwa konflik, melemahnya perdagangan, dan ketidakpastian yang berkepanjangan memberikan tekanan berat terhadap perekonomian Iran.
Menurut ekonom Ahmad Alavi, seorang peneliti yang berkantor di Swedia, perang bukanlah penyebab awal krisis ekonomi Iran, tetapi telah memperburuknya secara drastis.
"Iran memasuki konflik ini dengan inflasi yang sudah berada di atas 40%, mata uang yang terus melemah, defisit anggaran kronis, serta bertahun-tahun menghadapi sanksi," katanya kepada DW.
"Perang menjadi guncangan eksternal. Kerusakan infrastruktur, terganggunya perdagangan melalui Selat Hormuz, pemadaman internet, dan meningkatnya ekspektasi inflasi mempercepat anjloknya daya beli masyarakat," ujarnya.
Alavi mengacu pada data resmi yang menunjukkan bahwa inflasi tahunan telah mencapai 66%, sementara inflasi secara tahunan (year-on-year) mendekati 88%.
Harga pangan bahkan meningkat lebih cepat. Harga roti dan serealia naik sekitar 140%, daging dan unggas 135%, produk susu lebih dari 116%, sedangkan minyak goreng melonjak lebih dari 200%.
Bagi banyak keluarga, angka-angka tersebut berarti harus mengurangi konsumsi daging, menunda pengobatan, dan mengubur rencana untuk menabung.
Perang mendorong sekitar 4 juta warga Iran ke jurang kemiskinan
Para ekonom mengatakan bahwa ketika kondisi ekonomi memburuk, rumah tangga biasanya terlebih dahulu memangkas pengeluaran untuk perjalanan dan pakaian. Namun, ketika inflasi terus berlanjut, penghematan mulai merambah kebutuhan pokok seperti makanan, layanan kesehatan, dan pendidikan.
Kondisi ini semakin menekan keluarga kelas menengah yang sebelumnya merasa kondisi keuangan mereka cukup aman.
Alavi mengatakan bahwa rumah tangga berpenghasilan rendah memang menjadi kelompok yang paling menderita. Namun, menurutnya, kelas menengah kini semakin menghadapi tekanan yang sama.
"Banyak pekerja bergaji tetap dan pensiunan untuk pertama kalinya jatuh di bawah garis kemiskinan karena pendapatan mereka tidak mampu mengimbangi inflasi."
Ia memperkirakan bahwa sejak konflik meningkat, sekitar 3,5 hingga 4,5 juta orang Iran tambahan data yang ada sebelumnya, telah jatuh ke jurang kemiskinan. Dengan demikian, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan kini mencapai lebih dari 40 juta orang.
Dunia usaha ikut terjepit
Tekanan ekonomi juga dirasakan oleh sektor swasta Iran. Morteza, seorang pedagang asal Iran, mengatakan bahwa jalur perdagangan regional berubah dengan cepat setelah pengiriman barang melalui Selat Hormuz menjadi semakin sulit.
"Cina bergerak cepat untuk mengisi sebagian kekosongan yang ditinggalkan para pemasok dari Dubai," katanya kepada DW. "Berbeda dengan negara-negara Teluk, Cina juga dapat mengirim barang melalui jalur kereta api melintasi Asia Tengah, sehingga bisa menghindari banyak risiko dan keterlambatan yang berkaitan dengan transportasi laut."
Ia meyakini bahwa meningkatnya peran jalur perdagangan darat tersebut menjadi salah satu alasan Amerika Serikat menargetkan jalur kereta api di dekat perbatasan Iran dengan Turkmenistan. Namun, penilaian tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Meski demikian, Morteza mengatakan bahwa perubahan jalur perdagangan tersebut hanya memberikan sedikit manfaat bagi para pedagang Iran.
"Jatuhnya nilai rial dan melonjaknya inflasi membuat pasar tidak mampu berkembang," ujarnya. "Para pedagang hidup dalam ketidakpastian terus-menerus karena nilai tukar berubah hampir setiap hari. Barang yang dulu kami beli dan jual dengan harga lebih rendah sekarang harus diganti dengan barang yang harganya jauh lebih mahal dan itu pun hanya jika pelanggan masih memiliki daya beli yang cukup untuk membelinya."
Bagi Morteza, ketidakpastian telah menjadi hambatan terbesar. "Dengan ketegangan yang terus berlanjut, sejujurnya saya tidak melihat masa depan yang jelas untuk menjalankan bisnis di Iran."
Bisakah pemerintah mengurangi dampaknya?
Meskipun harga minyak dunia meningkat, Alavi mengatakan Iran kemungkinan tidak akan mendapatkan keuntungan besar. Sanksi, pembatasan ekspor, dan meningkatnya biaya transportasi masih membatasi pendapatan Iran dari sektor minyak.
Menurutnya, sejumlah langkah pemerintah, seperti subsidi, pengendalian harga, dan intervensi di pasar valuta asing, mungkin dapat mengurangi tekanan dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut kemungkinan tidak akan menyelesaikan masalah mendasar perekonomian Iran.
"Tanpa memulihkan kepercayaan, mengurangi sanksi, dan mengatasi masalah struktural, kebijakan-kebijakan tersebut hanya menjadi respons jangka pendek, bukan solusi yang bertahan lama."
Harga ketidakpastian
Menurut Alavi, ketidakpastian itu sendiri kini telah menjadi salah satu hambatan terbesar bagi pemulihan ekonomi.
Banyak perusahaan menunda investasi karena mereka tidak yakin dengan kondisi ekonomi di masa depan. Pada saat yang bersamaan, rumah tangga semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang karena memperkirakan harga akan terus naik dan nilai pendapatan mereka akan semakin menurun.
Menurutnya, membangun kembali kepercayaan para investor, pelaku usaha, dan konsumen kemungkinan membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan memperbaiki kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh perang.
Selama inflasi belum mereda, nilai tukar belum stabil, dan kondisi perdagangan belum membaik, Alavi memperkirakan banyak rumah tangga akan tetap berada di bawah tekanan finansial, bahkan jika ketegangan militer mulai mereda. Ke depan, ia memperkirakan standar hidup akan semakin memburuk jika tren saat ini terus berlanjut.
Lebih banyak keluarga kemungkinan akan mengurangi konsumsi makanan berprotein, menunda perawatan kesehatan, dan memangkas biaya pendidikan. Sementara itu, penutupan usaha dan angka pengangguran juga diperkirakan terus meningkat.
"Kami sudah tidak membicarakan masa depan lagi," kata Mina. "Kami hanya berharap masih mampu membayar sewa bulan depan."
Artikel Terkait
Mendagri: Inflasi Juli 2026 Terjaga di 2,88%, Sesuai Target Pemerintah
Inflasi Pabrik China Melandai, Tekanan Harga Mulai Mereda
Data Inflasi AS Pekan Depan Jadi Ujian bagi Reli Wall Street
Inflasi Tahunan Juli 2026 Tembus 2,88 Persen, BPS Sebut Makanan dan Transportasi Jadi Pendorong Utama