Reli Wall Street yang baru saja mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa akan diuji pekan depan oleh rilis data inflasi terbaru. Data tersebut dinilai dapat memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.
Indeks S&P 500 pada pekan ini mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa untuk pertama kalinya dalam dua bulan, didorong oleh saham teknologi dan semikonduktor. Meredanya ketegangan AS-Iran turut menopang saham, dengan penurunan harga minyak meredakan sebagian kekhawatiran mengenai inflasi.
Saham juga menguat pada Jumat setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lemah mengurangi kekhawatiran bahwa The Fed perlu segera menaikkan suku bunga. Reli pasar baru-baru ini berhasil mendorong kenaikan S&P 500 sejak awal tahun menjadi lebih dari 13 persen.
Laporan laba perusahaan melampaui ekspektasi yang tinggi untuk kuartal kedua berturut-turut, menopang optimisme investor terhadap prospek pasar saham. Namun, perhatian kini beralih ke data inflasi yang akan dirilis pekan depan.
Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Consumer Price Index (CPI) Juli naik 3,4 persen secara tahunan. Sementara itu, kenaikan CPI inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang bergejolak, diperkirakan sebesar 2,5 persen.
The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan lalu, tetapi tiga dari 12 pembuat kebijakan tidak setuju dan mendukung kenaikan suku bunga. Hingga Jumat, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya pada September sebesar 44 persen.
Artikel Terkait
Wall Street Bervariasi, Investor Cermati Peluang Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Harga Emas Menguat, Minyak Turun Redakan Kekhawatiran Inflasi
Wall Street Cetak Rekor Baru, Dow dan S&P 500 Ditopang Saham AI
Wall Street Cetak Rekor, Dow Jones Tembus 54.000