Babak kedua benar-benar berbeda. Masuknya Bruno Paraiba dan Rachmat Irianto bukan sekadar pergantian pemain biasa. Itu adalah koreksi taktis yang langsung terasa. Ritme permainan naik, intensitasnya bertambah.
Bruno Paraiba lantas mencetak gol debutnya. Gol yang datang di momen krusial itu semakin menggoyahkan pertahanan PSIM. Dan ketika lawan mulai limbung, Rachmat Irianto muncul untuk memberi pukulan final.
Menit 45 38. Rachmat membawa bola dari tengah lapangan, mengelak dari hadangan, dan melepaskan tembakan dingin. Gol solo run itu mematikan semua harapan PSIM. Lebih dari itu, ia menegaskan siapa pemimpin di lapangan hari itu.
Dengan kemenangan ini, Persebaya melompat ke peringkat enam klasemen sementara dengan 31 poin, menggeser PSIM yang tertahan di angka 30. Jarak dengan papan atas semakin tipis. Persaingan, tentu saja, akan makin sengit.
Tapi di luar angka-angka, laga ini menawarkan sesuatu yang lebih berharga: harapan. Konsistensi Malik Risaldi, ketajaman Rachmat Irianto, dan kontribusi signifikan para pemain pengganti adalah sinyal positif untuk paruh musim yang tersisa.
Jadi, jika PSM punya Sananta dan Raehan, kini Persebaya punya Malik dan Rachmat. Putaran kedua baru saja dimulai. Dan suasana di liga terasa akan semakin panas.
Artikel Terkait
Persib Buka Suara Soal Isu Investasi Rp1,5 Triliun dari Jerman
Persib Kejar Gelar, Persebaya dan PSM Berjuang di Jalur Berbeda Jelang Akhir Musim
Juventus Incar Emiliano Martinez, Kiper Aston Villa, untuk Perkuat Mistar Gawang
PSM Makassar Kembali Dihukum FIFA, Dilarang Transfer Tiga Periode