JAKARTA – Dunia balap motor Indonesia baru saja mencatat sejarah. Veda Ega Pratama, wonderkid asal Gunungkidul itu, resmi dikontrak oleh raksasa minuman berenergi, Red Bull. Ini kabar besar, tentu saja.
Dengan bergabungnya Veda, ia kini menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang berada di bawah payung sponsor perusahaan asal Austria tersebut. Posisi ini sebelumnya pernah diisi nama-nama besar macam Jonatan Christie di bulu tangkis dan Sanggoe Darma Tanjung di skateboard. Tapi sekarang, Veda sendirian yang memegang tampuk itu.
Menariknya, menjadi juara atau runner-up di Red Bull Rookies Cup tak lantas menjamin seseorang langsung dapat kontrak eksklusif. Nah, di sinilah prestasi Veda berbicara. Posisinya sebagai runner-up di ajang itu pada musim 2025 rupanya menjadi kunci yang membuka pintu kerja sama istimewa ini.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Kamis (22/1/2026), Veda membagikan momen yang cukup mengharukan. Ia tampak disambut hangat oleh keluarga besar Red Bull di Austria.
Dalam video yang beredar, ada momen yang cukup ikonik. Jose Antonio Rueda, juara dunia Moto3 musim lalu, secara simbolis memberikan topi bermerek banteng merah kepada Veda. Gestur itu menandai dimulainya perjalanan barunya sebagai atlet resmi Red Bull.
Bergabungnya pemuda 17 tahun ini ke dalam jajaran "atlet banteng merah" jelas bukan sekadar tempelan logo. Ini adalah sinyal kuat. Talenta balap Indonesia kian diperhitungkan di mata dunia, terlebih saat Veda bersiap untuk debutnya di kelas Moto3.
Prestasinya di ajang penjenjangan ternyata membawa berkah ganda. Berkat finis di tiga besar klasemen akhir Rookies Cup, Veda mendapat izin khusus untuk debut di Moto3 di usia 17 tahun. Ia memanfaatkan aturan pengecualian batas usia minimal 18 tahun sebuah regulasi yang tercipta berkat fenomena Fabio Quartararo dulu.
Artikel Terkait
PSM Makassar Bertekad Hentikan Tren Negatif di Kandang Persijap
PSM Makassar Bertekad Curi Poin di Kandang Persijap Meski Ditinggal Dua Pilar
PSM Makassar Bertekad Hancurkan Pesta Persijap Meski Ditinggal Dua Pilar
Diam di Tengah Hiruk-Pikuk Bursa, Strategi PSM Bakal Jadi Senjata atau Bumerang?